Berita

Akbar Tandjung

Wawancara

WAWANCARA

Akbar Tandjung: Ical Tidak Manfaatkan Rapimnas Untuk Muluskan Niatnya Di Golkar

SENIN, 17 NOVEMBER 2014 | 06:59 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Ketua Dewan Pertimbangan  Partai Golkar Akbar Tandjung memastikan Rapimnas di Yogyakarta, 17-18 November 2014, tidak akan dimanfaatkan Aburizal Bakrie memimpin kembali partai berlambang pohon beringin itu.

Ical tidak akan memanfaatkan Rapimnas itu. Jadi, tidak perlu ada kecurigaan soal penjegalan calon ketua umum,’’ ujar Akbar Tandjung kepada Rakyat Merde­ka di Jakarta, Jumat (14/11).

Seperti diketahui, Munas Partai Golkar akan dilaksanakan Januari 2015. Keputusan itu diambil dalam Rapat Pleno DPP Partai Golkar di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Jumat (14/11) dini hari.


Munas akan diadakan Januari 2015,” cetus Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie usai rapat.

Akbar Tandjung selanjutnya mengatakan, Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie memiliki kesempatan untuk bertarung di arena Musyawarah Nasional (Munas). Golkar tak membatasi incumbent, meskipun sejak masa reformasi tidak ada ketua umum yang menjabat dua periode.

”Dulu saya juga maju untuk kedua kali. Tapi dikalahkan Pak Jusuf Kalla yang saat itu men­jabat Wakil Presiden. Intinya, ti­dak ada larangan bagi Ical (Abu­rizal Bakrie) atau kader lain. Se­mua punya hak yang sama di arena Munas,’’ paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Ical gagal membawa Golkar memenangkan Pileg dan Pil­pres 2014, apa masih pantas me­mimpin lagi?
Itu kan secara individual. Se­cara formal, Ical punya hak yang sama dengan kader lain. Soal dia terpilih kembali atau tidak, itu tergantung peserta Munas.

Seluruh fungsionaris dan kader Partai Golkar memiliki pe­luang un­tuk bertarung di Munas IX Gol­kar. Kami mem­beri ke­sem­patan secara terbuka, kepada sia­pa saja yang merasa ter­pang­gil.

Bagaimana Anda melihat tantangan yang dihadapi Gol­kar pada pemilu mendatang?
Pemilu 2019 memiliki kekhu­su­san karena pilpres dan pileg dilakukan bersamaan. Untuk itu, harus memilih dan men­ja­lankan langkah strategis agar Gol­kar siap merespons peristi­wa tersebut.

Golkar harus segera berbenah untuk memenangkan Pemilu 2019. Terlebih, tahun 2004 Gol­kar per­nah menang. Saat itu, situ­asinya jauh lebih sulit.

Kalau kita berkaca pada situasi itu, Golkar punya potensi. Kami pernah menang. Jika Golkar tak bisa mempertahankan kemena­ngan, tentu ada hal yang salah. Ini­lah poin utama yang harus kita evaluasi dan diperbaiki.

Apa Ical mampu menjawab tantangan itu?
Ya, kita lihat nanti. Dia kan be­lum mendapatkan mandat untuk memimpin Golkar pada periode selanjutnya.

Dari sejumlah calon, siapa yang bisa menjawab tantangan itu?
Seperti yang saya sampaikan tadi, kami memberi kesempatan yang sama dan terbuka kepada siapa saja. Soal siapa yang ber­potensi dan terpilih, kita serahkan kepada peserta Munas. Yang penting, kita melakukan evaluasi dan berbagai perbaikan untuk membawa Golkar menangkan Pemilu 2019.

O ya, bagaimana tanggapan Anda soal KPK memeriksa Ketua MPR Zulkifli Hasan?
Menurut saya nggak masalah. Apalagi Pak Zulkifli dipanggil sebagai saksi dan bukan dalam kapa­sitas sebagai Ketua Majelis Per­musyawaratan Rakyat (MPR),­ ta­pi sebagai bekas Men­teri Kehu­tanan.

Artinya, tidak perlu mundur dari Ketua MPR?
Saya kira tidak perlu. Saya ber­pegang pada prisnsip hukum. Selama masih berstatus sebagai saksi, harus kita hormati. Kita nggak perlu berprasangka buruk.

Bagaimana jika terjadi pe­ningkatan status?
Kalau sudah tersangka, ya lain ce­ritanya. Itu perlu disikapi ser­ius. Selama itu belum terjadi, kita harus  berpegang pada prinsip pra­duga tidak bersalah. Kita per­cayakan saja pada proses hukum yang sedang berlangsung. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

AS dan Iran Kembali Saling Serang

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:02

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.400, BI Soroti Tekanan Global

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:32

Harga Minyak Melonjak Meski OPEC+ Berencana Tambah Produksi

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22

Polri Larang Anggota Live Streaming Saat Berdinas

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:18

Kenaikan HET MinyaKita Picu Harga Lewati Batas Wajar

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Prabowo Minta Kampus Bantu Pemda Atasi Masalah Sampah hingga Tata Kota

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Penyelidikan Korupsi Lahan Whoosh Mandek, KPK Akui Beban Perkara Menumpuk

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:08

Aktivis HAM Tak Perlu Disertifikasi

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Dubes Perempuan RI Baru Sekitar 10 Persen, Jauh dari Target 30 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Selengkapnya