Berita

presiden Joko widodo/net

Andi Arief: Pidato Jokowi di APEC Mengecewakan dan Sadis

RABU, 12 NOVEMBER 2014 | 13:07 WIB | OLEH: DR. TEGUH SANTOSA

PIDATO Presiden Joko Widodo di depan Forum APEC di Beijing masih jadi bahan pembicaraan di tengah masyarakat.

Ada banyak yang memuji cara Jokowi menyampaikan pidato dalam bahasa Inggris dengan logika dan struktur bahasa Indonesia itu. Ini paling tidak membuktikan Jokowi tidak gagap berbahasa Inggris seperti yang sering digunjingkan.

Begitu juga dengan isi pidato Jokowi yang dinilai apa adanya, langsung pada persoalan. Serta tidak banyak basa-basi. Dalam era kerja sekarang ini, memang sudah seharusnya pemimpin memberi teladan dengan  unjuk kerja, bukan unjuk kata-kata.


Di sisi lain ada juga yang menilai cara dan isi pidato Jokowi itu tidak pantas dan tidak patut. Disarankan, sebaiknya Jokowi menggunakan bahasa Indonesia karena toh akan dibantu oleh penterjemah. Dengan menggunakan bahasa Indonesia, Jokowi diperkirakan bisa lebih bisa mengelaborasi maksud yang ingin disampaikannya.

Adapun soal isi dinilai mengagetkan. Karena Jokowi berbicara layaknya seorang penjaja atau penjual barang di pasar tradisional. Belum lagi, penjaja di pasar tradisional memang kerap kali harus berteriak-teriak untuk mengalahkan kebisingan dan menarik perhatian calon pembeli.

Benar, bahwa Jokowi dulu juga seorang pengusaha, dan barangkali pengalaman sebagai pengusaha itu yang membangun karakternya. Jokowi sendiri dalam pidato itu sudah mengatakan di awal bahwa dirinya senang berbicara dengan sesama pengusaha.

Tetapi, sebagai seorang presiden dari sebuah negara besar sekelas Indonesia, Jokowi diharapkan lebih bisa menyampaikan hal-hal yang fundamental mengenai proses pembangunan di Indonesia dan kepentingan besar kawasan Asia Pasifik.

Hal lain yang juga penting adalah, Jokowi seakan lupa sedang berbicara di sebuah forum bernama APEC dalam kapasitas sebagai presiden. Seharusnya ia bisa menggambarkan peta besar dan menempatkan Indonesia bersama kepentingan Indonesia di dalam peta besar itu.

Jokowi tampaknya gagal menangkap dan memahami atau setidaknya mengabaikan persoalan besar yang sedang terjadi di kawasan Asia Pasifik, mengenai perebutan pengaruh antara China yang menggandeng Korea Selatan dan Amerika Serikat yang menggunakan Jepang, misalnya. Juga mengabaikan peran Rusia  dan India. Semangat Masyarakat Ekonomi ASEAN pun kurang didekati.

Hal di atas selayaknya juga disinggung oleh Jokowi ketika membicarakan soal pembangunan Indonesia. Dengan menggambarkan peta besar dan kompleksitas terbaru itu, Jokowi bisa meyakinkan dunia bahwa Indonesia adalah kekuatan besar yang menjadi alternatif dari berbagai persinggungan kepentingan dan perebutan pengaruh.

Salah seorang yang kecewa dengan pidato Jokowi adalah mantan Staf Khusus Presiden Andi Arief.

Menurut Andi Arief, isi pidato seperti itu semestinya disampaikan oleh seorang  Ketua Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).

Mengecewakan dan sadis, seorang presiden bicara di forum internasional bukannya berupaya menambah program-program buat kebutuhan rakyat, malah tanpa empati akan mengambil hak rakyat,” tulis Andi Arief dalam statusnya di Facebook.

Saya yakin peserta paparan Presiden Indonesia di China ini diam-diam berbisik: baru kali ini ada kepala negara yang ingin mengambil hak rakyatnya dengan bangga disampaikan di dunia internasional,” demikian Andi Arief. [***]

Populer

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Si Jago Tua yang Dilupakan

Senin, 31 Agustus 2026 | 04:40

UPDATE

Jaksa Agung: Ini Saatnya, Badai Harus Berlalu

Rabu, 02 September 2026 | 22:09

Dugaan Pelanggaran Etik, Perwira Polri Dilaporkan ke Propam

Rabu, 02 September 2026 | 21:49

BPOM Butuh Anggaran Rp2,4 Triliun, Rp509 Miliar Khusus Kawal MBG

Rabu, 02 September 2026 | 21:21

DPR Minta Pelaku Pembakaran Hutan Dihukum Mati

Rabu, 02 September 2026 | 21:04

Halmahera Tengah Diguncang Gempa, Belasan Rumah dan Faskes Rusak

Rabu, 02 September 2026 | 20:45

Polri Ujung Tombak Demokrasi dalam Aksi 27 Agustus

Rabu, 02 September 2026 | 20:22

Keluarga Indonesia Diajak Siapkan Warisan Bermakna

Rabu, 02 September 2026 | 19:46

Dari Rival Menjadi Sekutu: Strategi Othello Prabowo

Rabu, 02 September 2026 | 19:30

Siswa Tak Libur di Tengah Kabut Asap, Kadisdik Kalteng Diminta Tak Asal Ambil Keputusan

Rabu, 02 September 2026 | 19:23

Indonesia Tak Bisa Akal-akali Alokasi Jemaah Haji dari Arab Saudi

Rabu, 02 September 2026 | 19:17

Selengkapnya