Berita

Politik

Tim Ekonomi Jokowi-JK Pakai Kacamata Kuda

MINGGU, 09 NOVEMBER 2014 | 17:58 WIB | OLEH: SYA'RONI

KENAIKAN harga BBM tinggal menunggu waktu saja. Pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla tetap ngotot menaikkan harga BBM meskipun kritik datang dari delapan penjuru mata angin. Tim Ekonomi Jokowi-JK tidak menggubris pendapat pihak lain. Juga tidak mempedulikan harga minyak dunia yang terus melorot.

Rupanya menaikkan harga BBM sudah menjadi harga mati, seakan Tim Ekonomi Jokowi-JK berjalan bak memakai kaca mata kuda. Percuma diberi masukan, karena pasti tidak dihiraukan.

Padahal banyak tokoh dan pengamat ekonomi yang memiliki pemikiran yang brilian tanpa harus menyengsarakan rakyat. Tidak perlu buru-buru menempuh jalan pintas menaikkan BBM. Masih banyak jalan dan alternatif lain yang bisa dilaksanakan.


Ekonom senior DR. Rizal Ramli misalnya berpendapat, kenaikan harga BBM tidak adil karena saat ini harga minyak mentah dunia turun dari 110 dolar AS  per barel menjadi 80 dolar AS per barrel.

Kenaikan harga BBM hanya berdampak kecil terhadap defisit transaksi berjalan, dan ada cara-cara yang lebih cerdas dari sekadar menaikkan harga BMM. Menurut dia salah satunya lewat kebijakan subsidi silang BBM yang bisa menghemat uang negara Rp40 triliun.

Dengan subsidi silang pemerintah bisa mempertahankan harga BBM jenis premium namun kandungan oktan diturunkan karena premium di Indonesia terlalu "mewah" dimana kandungan oktan mencapai 88 atau jauh lebih tinggi dibandingkan jenis serupa di Amerika Serikat sekali pun yang oktannya hanya 86. Menurut Rizal Ramli, cara ini sekaligus bisa menurunkan konsumsi BBM subsidi sekitar 40 persen karena pemilik mobil mewah yang biasa ikut "menyedot" BBM subsidi takut mobilnya rusak.

Sayangnya, tim ekonomi Jokowi-JK sangat tidak mempedulikan dampak kenaikkan harga BBM. Dikira dengan memberi tiga kartu bisa meredam kesengsaraan rakyat. Dikira rakyat bisa dibohongi bahwa kenaikan BBM terpaksa dilakukan karena Jokowi harus melaksanakan janji kampanye untuk memberi rakyat tiga kartu itu.

Padahal bila diamati secara mendalam kebijakan Jokowi-JK, hampir tidak ada yang baru. Semuanya mirip-mirip kebijakan SBY, hanya berganti nama saja.

Bila di zaman SBY ada dana BOS, di era Jokowi diganti KIP. Jamkesmas diganti KIS. Dan BLT diganti dengan KKS. Karena tidak ada program yang benar-benar baru, mestinya Jokowi memakai dana yang ada saja. Toh, dananya sudah tersedia, tinggal memakai saja. Kalau pun namanya mau diganti silahkan saja.

Jadi, Tim Ekonomi harus lah lebih kreatif. Sudah saatnya menanggalkan kaca mata kuda. Lihatlah kondisi sekitar dan dengarkanlah pendapat-pendapat yang pro rakyat. Tugas tim ekonomi adalah menyejahterakan rakyat, bukan menyengsarakan rakyat. Jika masih tetap ngotot menaikkan BBM, patut dicurigai ada penumpang gelap yang ingin mendulang keuntungan.[***]

Penulis adalah Sekretaris Jenderal Himpunan Masyarakat Untuk Kemanusiaan dan Keadilan (HUMANIKA)

Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Dilema Kelas Menengah dan Bawah di Dua Tahun Prabowo-Gibran

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:31

Lewat Surat Terbuka, Forum Guru Besar Indonesia Desak Gibran Mundur dari Wapres!

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:20

Prabowo Berbelasungkawa atas Wafatnya Jenderal TNI Purn Subagyo

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:17

Harga Emas Antam Ambruk, Termurah Dijual Rp1,33 Juta

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:13

Sempat Dirumorkan Meninggal, Kim Jong-un Muncul di Pameran Mode Korut

Selasa, 20 Oktober 2026 | 10:03

Muslim Arbi Apresiasi Dua Tahun Pemerintahan Prabowo, Swasembada Beras Jadi Prestasi

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:59

Dua Tahun Prabowo-Gibran, Rupiah Bergerak ke Rp18.023 per Dolar AS

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:49

Komisi II DPR Desak HGU Perusahaan Pembakar Hutan Dicabut

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:44

BEI Pastikan Saham HSC Tetap Diperdagangkan, Hanya Dicoret dari Hitungan IHSG

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:40

IHSG Dibuka Merah, Dua Menit Perdagangan Langsung Lompat 1,8 Persen

Selasa, 20 Oktober 2026 | 09:22

Selengkapnya