Berita

ilustrasi korea utara dan korea selatan/net

Dunia

Kepentingan Ekonomi Tiongkok Jadi Penghalang Unifikasi Dua Korea

SELASA, 04 NOVEMBER 2014 | 18:24 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Tiongkok dinilai sebagai salah satu faktor penghambat terwujudnya penyatuan atau  unifikasi Korea Utara dan Korea Selatan.

Pasalnya, menurut mantan Menteri Urusan Politik di masa Presiden Roh Tae-woo, Park Cheol-un, Tiongkok memiliki kepentingan ekonomi di Korea Utara. Tiongkok telah menyewa tambang di Korea Utara dan sebuah pelabuhan untuk kepentingan ekonominya di negara tersebut. Bukan hanya itu, Tiongkok juga menggunakan sumber daya alam di Korea Utara dalam jangka waktu tertentu.

Karena itu, Tiongkok kemungkinan besar akan mengerahkan pasukannya di Korea Utara untuk melindungi kepentingan ekonominya bila suatu saat ada perubahan yang terjadi di negara tersebut.


Atas dasar itulah Park menilai, Tiongkok akan merasa tidak nyaman bila unifikasi dua Korea terwujud dalam waktu dekat ini karena kepentingan ekonominya di Korea Utara akan terganggu.

Senada dengan Park, seorang penasihat senior yang juga merupakan Kepala Center for Strategic and International Studies, Victor Cha menilai, unifikasi dua Korea bukan hanya proses yang melibatkan negara-negara tetangga, tapi juga institusi internasional lainnya di luar kawasan yang memiliki kepentingan dalam unifikasi tersebut.

"Unifikasi dua Korea merupakan hal yang sangat penting bagi lingkungan internasional saat ini. Sehingga dalam prosesnya tidak mungkin mengabaikan keterlibatan negara-negara di luar kawasan", ujarnya di Washington DC dikutip Korea Kini.

Menurutnya, unifikasi dua Korea dalam skala yang lebih luas dapat dipandang sebagai langkah penting bagi komunitas keamanan di Asia yang akan melibatkan semua negara.

"Lembaga-lembaga internasional seperti PBB dan Bank Dunia, Dana Moneter Internasional, Bank Pembangunan Asia dan lain-lain juga akan memiliki kepentingan," tandasnya. [mel]

Populer

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Dokter Tifa Buka Pintu Perawatan Imun untuk Jokowi

Jumat, 16 Januari 2026 | 18:06

Eggi dan Damai SP3, Roy Suryo dan Dokter Tifa Lanjut Terus

Jumat, 16 Januari 2026 | 17:45

Seskab Dikunjungi Bos Kadin, Bahas Program Quick Win hingga Kopdes Merah Putih

Jumat, 16 Januari 2026 | 17:35

Situasi Memanas di Iran, Selandia Baru Evakuasi Diplomat dan Tutup Kedutaan

Jumat, 16 Januari 2026 | 17:20

Melihat Net-zero Dari Kilang Minyak

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:53

SP3 Untuk Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis Terbit Atas Nama Keadilan

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:48

Kebakaran Hebat Melanda Pemukiman Kumuh Gangnam, 258 Warga Mengungsi

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:13

Musda Digelar di 6 Provinsi, Jawa Barat Tuan Rumah Rakornas KNPI

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:12

Heri Sudarmanto Gunakan Rekening Kerabat Tampung Rp12 Miliar Uang Pemerasan

Jumat, 16 Januari 2026 | 15:33

Ruang Sunyi, Rundingkan Masa Depan Dunia

Jumat, 16 Januari 2026 | 15:17

Selengkapnya