Berita

ilustrasi/net

Dunia

Seret Korut dengan Isu HAM, Versi Baru Agresi AS

SELASA, 28 OKTOBER 2014 | 11:56 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Tudingan-tudingan yang dilayangkan oleh Amerika Serikat terkait isu pelanggaran HAM Korea Utara dinilai sebagai bentuk serangan terbaru yang dilakukan oleh negeri Paman Sam untuk menjatuhkan sistem sosialis Korea Utara.

"Sekarang serangan HAM Amerika Serikat ke Korea Utara telah mencapai fase ekstrim," kata Komisi Pertahanan Nasional Korea Utara dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis akhir pekan lalu, dikutip Kawan Korea.

Pernyataan itu dikeluarkan sebagai sikap Korea Utara atas langkah Amerika Serikat yang berupaya menyeret Korea Utara dengan isu HAM ke Majelis Umum PBB.


Padahal, tegas Komisi Pertahanan, masyarakat Korea Utara menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, HAM merupakan inti dari kebijakan dan pelaksanaan politik di Korea Utara yang tidak dapat diganggu-gugat.

"Mungkin presiden Amerika Serikat secara berturut-turut dan politisi tidak memahami ada masyarakat ideal di planet kita, tak peduli betapa bersungguh-sungguhnya kita menjelaskan. Tidak ada selain Amerika Serikat yang tidak mampu melindungi HAM orang kulit hitam meskipun presiden mereka kulit hitam," lanjut pernyataan tersebut.

Hal itu menjadi fakta menyedihkan sekaligus ironi bagi Amerika Serikat yang vokal menggaungkan penegakkan HAM, sementara negaranya masih kerepotan menangani HAM.

"Sekarang, kampanye HAM anti-Korea Utara mengarah ke plot keji untuk menurunkan sistem sosial yang bermartabat di Korea Utara," kata Komisi Pertahanan dalam pernyataan serupa.

"Kampanye HAM Amerika Serikat merupakan versi lain dari tindakan agresi paling jelas terhadap kedaulatan dan hak-hak Korea Utara," lanjut pernyataan tersebut.

Untuk menanggapi sikap Amerika Serikat itu, kata Komisi Pertahanan, Korea Utara memutuskan untuk melucurkan langkah baru, berupa deklarasi rencana operasional pasukan bersenjata revolusioner Korea Utara untuk menyerang seluruh basis pasukan agresor imperialis Amerika Serikat di Pasifik yang menargetkan Korea Utara dan kota-kota utama di Amerika Serikat di mana maniak perang ditempatkan secara sah.

Korea Utara tidak menyangkal bahwa deklarasi itu didasarkan pada kekuatan nuklir yang dibangun. Deklarasi itu diluncurkan karena tindakan Amerika Serikat dinilai telah melebihi batas toleransi.

"Militer dan masyarakat Korea Utara menyerukan kepada dunia untuk benar-benar menghancurkan kerjasama mengancam bagi agresi yang dicari oleh Amerika Serikat dan pengikutnya dengan dalih isu HAM melalui kerjasama anti-Amerika Serikat yang berlandaskan keadilan dan kebenaran," tegas pernyataan tersebut. [mel]

Populer

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Dokter Tifa Buka Pintu Perawatan Imun untuk Jokowi

Jumat, 16 Januari 2026 | 18:06

Eggi dan Damai SP3, Roy Suryo dan Dokter Tifa Lanjut Terus

Jumat, 16 Januari 2026 | 17:45

Seskab Dikunjungi Bos Kadin, Bahas Program Quick Win hingga Kopdes Merah Putih

Jumat, 16 Januari 2026 | 17:35

Situasi Memanas di Iran, Selandia Baru Evakuasi Diplomat dan Tutup Kedutaan

Jumat, 16 Januari 2026 | 17:20

Melihat Net-zero Dari Kilang Minyak

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:53

SP3 Untuk Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis Terbit Atas Nama Keadilan

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:48

Kebakaran Hebat Melanda Pemukiman Kumuh Gangnam, 258 Warga Mengungsi

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:13

Musda Digelar di 6 Provinsi, Jawa Barat Tuan Rumah Rakornas KNPI

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:12

Heri Sudarmanto Gunakan Rekening Kerabat Tampung Rp12 Miliar Uang Pemerasan

Jumat, 16 Januari 2026 | 15:33

Ruang Sunyi, Rundingkan Masa Depan Dunia

Jumat, 16 Januari 2026 | 15:17

Selengkapnya