Berita

Dunia

Ribuan Warga Negara Bekas Uni Soviet Jadi Tentara Bayaran di Suriah

KAMIS, 23 OKTOBER 2014 | 12:01 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Lebih dari 1.500 warga negara bekas Uni Soviet atau Commonwealth of Independent States (CIS) tercatat ikut bergabung dengan organisasi-organisasi teroris internasional untuk berjuang di Suriah sebagai tentara bayaran.

Begitu bunyi laporan yang disampaikan oleh kepala pelayanan pers Pusat Antiteror CIS, Andrey Novikov dalam pertemuan kedua dengan Pusat Kontra-terorisme PBB (Rabu, 22/10). Ia menambahkan, jumlah tersebut masih berpotensi meningkat secara bertahap.

Novikov menjelaskan, pihak berwenang CIS saat ini telah menempuh sejumlah langkah untuk menangani hal tersebut. Di antaranya adalah melakukan identifikasi dan pendaftaran warga negara yang terlibat dalam kegiatan teroris di organisasi teror internasional seperti di Suriah, Afghanistan, Pakistan, dan sejumlah wilayah konflik lainnya.


Dikabarkan kantor berita Rusia, Itar-tass, CIS melakukan penyelidikan di bawah undang-undang pidana yang akan mengganjar para tentara bayaran itu dengan hukuman karena ikut bergabung dengan komflik bersenjata asing serta mengikuti pelatihan teroris dan rekrutmen ekstrimis.

Ia juga menyebut, pihaknya memiliki bank data khusus berisi informasi yang dikumpulkan, termasuk data rahasia soal tentara-tentara bayaran yang terlibat dalam kegiatan teroris di luar negara-negara CIS, organisasi mana saja yang mendukung kegiatan tentara bayaran itu dalam skala yang luas, serta data lainnya terkait pelatihan para tentara bayaran itu.

Menurutnya, saat ini organisasi-organisasi internasional seperti PBB, Interpol, Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO), CIS dan ASEAN perlu ikut berpartisipasi dalam penanganan masalah ini dengan mengembangkan pertukaran informasi mengenai orang dan organisasi yang terlibat dalam kegiatan tentara bayaran tersebut. [mel]

Populer

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Dokter Tifa Buka Pintu Perawatan Imun untuk Jokowi

Jumat, 16 Januari 2026 | 18:06

Eggi dan Damai SP3, Roy Suryo dan Dokter Tifa Lanjut Terus

Jumat, 16 Januari 2026 | 17:45

Seskab Dikunjungi Bos Kadin, Bahas Program Quick Win hingga Kopdes Merah Putih

Jumat, 16 Januari 2026 | 17:35

Situasi Memanas di Iran, Selandia Baru Evakuasi Diplomat dan Tutup Kedutaan

Jumat, 16 Januari 2026 | 17:20

Melihat Net-zero Dari Kilang Minyak

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:53

SP3 Untuk Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis Terbit Atas Nama Keadilan

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:48

Kebakaran Hebat Melanda Pemukiman Kumuh Gangnam, 258 Warga Mengungsi

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:13

Musda Digelar di 6 Provinsi, Jawa Barat Tuan Rumah Rakornas KNPI

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:12

Heri Sudarmanto Gunakan Rekening Kerabat Tampung Rp12 Miliar Uang Pemerasan

Jumat, 16 Januari 2026 | 15:33

Ruang Sunyi, Rundingkan Masa Depan Dunia

Jumat, 16 Januari 2026 | 15:17

Selengkapnya