Berita

Gerai Louis Vuitton di Hong Kong/net

Dunia

Masalah di Hong Kong, Tiongkok, dan Thailand Lemahkan Penjualan Barang Mewah

RABU, 22 OKTOBER 2014 | 12:07 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Penjualan barang-barang mewah di pasar Asia tercatat melemah akibat unjuk rasa jalanan di Hong Kong, perlambatan ekonomi dan gerakan anti-korupsi di Tiongkok, serta kudeta militer tak berdarah di Thailand.

Salah satu perusahaan multinasional pemilik merk-merk mewah seperti Louis Vuitton, Givenchy dan Dior, LVHM tercatat mengalami penurunan penjualan sebesar 3 persen di Asia di kuartal ketiga tahun 2014 ini.

Menurut Direktur Keuangan LVHM, Jean-Jacques Guiony, penurunan itu terjadi salah satunya adalah akibat unjuk rasa pro-demokrasi yang terjadi di Hong Kong. Unjuk rasa puluhan ribu massa yang sebagian besar merupakan mahasiswa di jalan-jalan utama memberikan dampak buruk pada penjualan produk-produknya.


"Kami telah mencatat beberapa dampak negatif pada kegiatan di toko bebas pajak di kuartal ketiga," ujarnya dikutip Japan Times (Selasa, 21/10).

Sementara itu seorang analis dari sekuritas CM-CIC, Arnaud Cadart menyebut saat ini ada sejumlah masalah yang datang bersamaan di Asia, baik dalam sektor ekonomi, moneter, dan geopolitik. Hal itu membawa dampak negatif pada pasar Asia.

Ia menilai, perlambatan pertumbuhan ekonomi di Tiongkok yang terjadi bersamaan dengan pengawasan ketat pembelian barang mewah para pejabat pemerintah juga turut melumpuhkan penjualan barang-barang mewah di negara tersebut,

Selain itu, kudeta yang didukung oleh militer di Thailand Mei lalu juga dinilai turut memberikan dampak pada penurunan penjualan.

Akan tetapi, dari sebagian besar penurunan penjualan barang mewah di pasar Asia adalah karena protes yang berlangsung di Hong Kong yang memiliki banyak gerai merk mewah.

Biasanya, industri jam mewah bisa mengandalkan 10 hingga 12 persen dari penjualan di Hong Kong. Bahkan sejumlah merk jam mewah seperti Richemont dan Swatch bisa meraup 20 persen keuntungan dari penjualan di Hong Kong.

Namun angka penjualan itu menurun hingga setengahnya dalam beberapa minggu terakhir di mana pengunjuk rasa kerap memblokade jalan-jalan utama Hong Kong dan ricuh dengan petugas kepolisian. [mel]

Populer

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

UPDATE

Dokter Tifa Buka Pintu Perawatan Imun untuk Jokowi

Jumat, 16 Januari 2026 | 18:06

Eggi dan Damai SP3, Roy Suryo dan Dokter Tifa Lanjut Terus

Jumat, 16 Januari 2026 | 17:45

Seskab Dikunjungi Bos Kadin, Bahas Program Quick Win hingga Kopdes Merah Putih

Jumat, 16 Januari 2026 | 17:35

Situasi Memanas di Iran, Selandia Baru Evakuasi Diplomat dan Tutup Kedutaan

Jumat, 16 Januari 2026 | 17:20

Melihat Net-zero Dari Kilang Minyak

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:53

SP3 Untuk Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis Terbit Atas Nama Keadilan

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:48

Kebakaran Hebat Melanda Pemukiman Kumuh Gangnam, 258 Warga Mengungsi

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:13

Musda Digelar di 6 Provinsi, Jawa Barat Tuan Rumah Rakornas KNPI

Jumat, 16 Januari 2026 | 16:12

Heri Sudarmanto Gunakan Rekening Kerabat Tampung Rp12 Miliar Uang Pemerasan

Jumat, 16 Januari 2026 | 15:33

Ruang Sunyi, Rundingkan Masa Depan Dunia

Jumat, 16 Januari 2026 | 15:17

Selengkapnya