Presiden terpilih Joko Widodo berjanji untuk melakukan pendekatan yang lebih berat kepada Australia terkait isu kedaulatan dalam pemerintahnnya mendatang.
Berbicara secara ekslusif dengan Fairfax media yang dikutip Sydney Morning Herald (Sabtu, 18/10), Jokowi menuturkan bahwa pihaknya berencana memperkuat hubungan dengan Australia, termasuk dalam sektor militer dan intelijen. Namun ia menggarisbawahi bahwa dirinya akan menitikberatkan isu kedaulatan dalam hubungan kedua negara.
Jokowi menyuarakan keprihatinannya atas kebijakan unilateral dan konfrontatif Australia terkait pencari suaka. Ia juga prihatin soal kemungkinan masuknya kapal Angkatan Laut Australia ke wilayah perairan Indonesia tanpa ijin seperti yang terjadi dalam lima kesempatan tahun lalu.
"Kami memiliki hukum internasional, Anda harus menghormati hukum internasional," katanya.
Jokowi menyebut, ia akan kembali membangun hubungan keamanan dengan Australia yang terganggu dalam serangkaian perselisihan diplomatik kedua negara terkait sejumlah isu beberapa waktu belakangan.
Bukan hanya itu, Jokowi juga berjanji untuk mendorong jalan baru bagi terciptanya kerjasama keamanan kedua negara yang bisa memberikan manfaat bukan hanya bagi Australia tapi juga bagi Indonesia, termasuk dalam memerangi terorisme.
Selain itu, Jokowi juga berjanji untuk mengambil peran dalam menengahi perselisihan teritorial di Laut China Selatan.
"Dua pertiga wilayah Indonesia adalah laut, air, di Laut China Selatan saya pikir Indonesia bisa bertindak sebagai perantara yang jujur," jelas mantan Gubernur DKI Jakarta itu.
Selain di sektor keamanan dan kedaulatan itu, Jokowi juga bersiap melakukan sejumlah langkah demi memperbaiki sektor perdagangan, investiasi, dan hubungan personal dalam hubungan bilateral dengan Australia.
Ia juga siap meningkatkan hubungan dalam sektor pendidikan, seperti pengiriman pelajar-pelajar Indonesia untuk belajar di Australia.
"(Hubungan) bisnis ke bisnis dan orang ke orang adalah penting," kata Jokowi.
"Kita akan mengirimkan pelajar-pelajar dari sini ke Australia," sambungnya.
Ia juga mengajak warga Australia untuk menjelajahi Indonesia selaun Bali.
Sementara itu menurut Director of Melbourne University's Centre for Indonesian Law, Islam and Society, Professor Tim Lindsey, terpilihnya Jokowi sebagai presiden Indonesia selanjutnya merupakan kesempatan baik untuk memperbaiki hubungan kedua negara yang memburuk sejak pemerintahan Perdana Menteri Tony abbott.
"Dan ini adalah langkah subtantif ke depan bagi transisi Indonesia untuk menjadi demokrasi liberal multi partai yang murni di mana orang dipilih karena manfaat dari kebijakan mereka serta track recornya, bukan semata-mata berdasarkan koneksi elit dan kekayaan," jelasnya.
[mel]