Berita

ilustrasi/net

Dunia

Dua Warga AS Ditembaki di Riyadh, Satu Tewas

RABU, 15 OKTOBER 2014 | 03:09 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Dua warga negara Amerika Serikat yang bekerja di perusahaan kontraktor militer di Arab Saudi, ditembaki oleh seorang pria ketika berada di stasiun pompa bensin di Riyadh, ibukota Arab Saudi, Selasa (14/10).

Tragedi itu menewaskan satu orang korban dan melukai beberapa warga yang lain. Pelakunya berhasil diringkus kepolisian setempat.

Dilaporkan oleh kantor berita resmi Arab Saudi, penembakan terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran akan serangan balasan militan Islam terhadap Amerika Serikat dan Arab Saudi. Kedua negara itu memang bekerjasama dalam koalisi militer melawan kelompok radikal Negara Islam alias ISIS yang sudah menguasaai Irak dan Suriah.


Setelah kejadian penembakan, pasukan keamanan Saudi bergegas ke lokasi perkara dan terlibat saling tembak dengan pelaku tersebut. Saudi Press Agency, mengutip seorang juru bicara polisi, mengabarkan bahwa si pelaku terluka dalam baku tembak.

Sayangnya, pemerintah Arab Saudi tidak membeberkan identitas korban atau si penembak, serta tidak memberikan kemungkinan motif serangan itu.

Tapi, seorang pejabat AS yang menolak identitasnya disebutkan, mengatakan bahwa laporan awal dari pejabat Saudi menyebutkan bahwa pelaku kemungkinan mantan karyawan perusahaan dari korban penembakan. Pelaku itu juga memegang kewarganegaraan ganda Saudi dan Amerika.

Sementara itu, juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Jen Psaki, mengatakan bahwa dua warga AS yang jadi korban itu adalah karyawan Vinnell Saudi, kontraktor militer AS yang mendukung program militer Garda Nasional Saudi di Riyadh.

Psaki mengatakan, tempat kejadian perkara berada sekitar setengah mil dari pangkalan Vinnell Saudi di Riyadh dan sekitar 20 mil jauhnya dari Kedutaan Besar Amerika Serikat.

Monarki Arab Saudi telah lama memiliki hubungan dekat dengan Washington. Tapi ada sentimen anti-Barat yang kuat di antara penduduk Saudi. Kerajaannya pun telah mengalami serangan teroris selama bertahun-tahun.

Pada saat yang sama, ratusan warga Saudi telah melakukan perjalanan ke Irak dan Suriah untuk bergabung dengan kelompok militan jihad di sana, menimbulkan kekhawatiran bahwa mereka akan kembali untuk melakukan serangan di negara asal mereka. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

TNI Siap Turunkan Penerjun Khusus Padamkan Api Karhutla

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:50

KDKMP Upaya Merebut Kedaulatan Rakyat Atas Pasar

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:34

Pemerintah Kembali Kirim Bantuan ke NTT dan Kalimantan, dari Logistik hingga 500 Mesin Pompa Air

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:30

Sri Purwanti Bangun Bisnis Kuliner Halal Citarasa Nusantara di Taiwan

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:26

Rupiah Melemah, Sanksi Baru AS ke Iran jadi Biang Kerok

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:13

Prabowo Dorong Uji Coba Ubi Bombing untuk Atasi Karhutla

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:43

El Nino Sangat Kuat, Jangan Bakar Lahan untuk Land Clearing

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:42

Rumor 62,2 Persen Saham BYAN Warning bagi Pasar Modal

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:40

Pencemaran Berulang, DPR Desak Sumber Limbah Pencemar Kali Bekasi Diusut

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:40

Bioskop Jaksinema Hadir di Pasar Rumput, Tiket Cuma Rp15 Ribu

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:28

Selengkapnya