Berita

ilustrasi/net

Galeri Nasional Kembalikan Posisi Filsafat dalam Seni Rupa

SENIN, 13 OKTOBER 2014 | 10:46 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Pada dasarnya, seni rupa berakar pada filsafat seni dan estetika. Di Barat, tradisi pemikiran filsafat seni dan estetika sendiri telah menjadi bidang kajian utama yang sangat serius. Namun dalam perkembangan seni rupa di luar Barat termasuk Indonesia, kajian filsafat seni dan estetika umumnya mandeg sehingga justru mengerem laju perkembangan seni rupa di luar belahan bumi Barat.

Karena itu, Galeri Nasional Indonesia merasa tergugah untuk membuka tabir kesadaran akan  pentingnya menumbuhkan tradisi pemikiran filsafat seni dan estetika yang menjadi cikal bakal perkembangan seni rupa di Nusantara dan dunia. Untuk itu, secara eksklusif Galeri Nasional Indonesia akan menggelar Seminar Nasional 2014 Filsafat Seni dan Estetika pada 15-16 Oktober 2014, di Mercure Convention Centre Ancol, Taman  Impian Jaya Ancol.

Seminar ini, menitik beratkan pada istilah oposisi karena keterkaitan   situasi mutakhir seni rupa yang dibentuk oleh prinsip "Apapun Boleh" (Anything Goes) yang telah menjadi "daya pendorong kreatif" dalam perkembangan seni rupa masa kini. Dalam prinsip penilaian "Anything Goes", penilaian berdasar prinsip pertentangan nilai atau oposisi nilai (yang 'baik' terhadap yang 'buruk'; yang 'indah' terhadap  yang 'jelek', yang benar terhadap yang 'salah) tidak lagi bisa dianggap berlaku. Semua bersifat relatif, kontekstual,  tak pernah final.


Namun dalam prakteknya, keadaan atau situasi-situasi tertentu yang bersifat oposisional tetap ada.  Tak adanya standard penilaian (Anything Goes) justru menjadi cara penilaian, yang ‘tidak bersifat mutlak namun  mampu memberikan kepastian yang bersifat sementara’. Maka standard penilaian itu akan berubah berdasarkan kehadiran dan kaitan kriteria dan standar penilaian lain yang bersifat mengikat.

Dalam keterangan kepada redaksi beberapa saat lalu (Senin, 13/10), akan hadir dalam seminar ini Prof. Dr. Ignatius Bambang Sugiharto (pengamat bidang pemikiran, filsafat, seni dan budaya), Dr. Yasraf Amir Piliang (pengajar, pengamat sosial, budaya, dan kesenian), Jim Supangkat (kurator, kritikus, penulis seni rupa), serta ST Sunardi  (pengamat bidang pemikiran, filsafat, seni dan budaya). [ysa]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Dicurigai Ada Kaitan Gibran dalam Proyek Sarjan di Kabupaten Bekasi

Senin, 29 Desember 2025 | 00:40

UPDATE

Dana Asing Banjiri RI Rp2,43 Triliun di Akhir 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:09

Pelaku Pasar Minyak Khawatirkan Pasokan Berlebih

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:48

Polisi Selidiki Kematian Tiga Orang di Rumah Kontrakan Warakas

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:41

Kilau Emas Dunia Siap Tembus Level Psikologis Baru

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:19

Legislator Gerindra Dukung Pemanfaatan Kayu Hanyut Pascabanjir Sumatera

Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:02

Korban Tewas Kecelakaan Lalu Lintas Tahun Baru di Thailand Tembus 145 Orang

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:51

Rekor Baru! BP Tapera Salurkan FLPP Tertinggi Sepanjang Sejarah di 2025

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:40

Wall Street Variatif di Awal 2026

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:23

Dolar AS Bangkit di Awal 2026, Akhiri Tren Pelemahan Beruntun

Sabtu, 03 Januari 2026 | 08:12

Iran Ancam Akan Targetkan Pangkalan AS di Timur Tengah Jika Ikut Campur Soal Demo

Sabtu, 03 Januari 2026 | 07:59

Selengkapnya