Berita

hasto/net

PDIP: Indonesia Tak Bisa Dibangun dengan Dendam Politik!

JUMAT, 03 OKTOBER 2014 | 20:58 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Posisi politik PDI Perjuangan berada di luar pemerintahan selama 10 tahun dibangun oleh kesadaran untuk meningkatkan kualitas demokrasi Indonesia, dan bukan oleh dendam politik.

Demikian disampaikan Wakil Sekjen PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto. Karena itu, ungkap Hasto, usulan Presiden SBY terkait dengan Panglima TNI, Kapolri, dan bagaimana PDI Perjuangan hadir lengkap pada saat pelantikan Presiden SBY pada tahun 2004 dan 2009 adalah contoh praktek politik yangg dewasa dan sehat yang ditunjukkan oleh PDI Perjuangan. Demikian halnya penghormatan terhadap Partai Denmokrat yang menempatkan kadernya sebagai Ketua DPR karena posisinya sebagai pemenang pemilu tahun 2009.

Namun sayang, lanjut Hasto, praktek politik berkeadaban tersebut kini jauh berbeda dengan apa yang terjadi saat ini. Simbiosis kekuatan Orde Baru, yang menjadi Neo Orde Baru di bawah kepemimpinan Aburizal Bakrie, Prabowo dan Amien Rais, kini tampil dengan politik bumi hangus atas dasar kekalahan di pemilu legislatif dan pilpres.


"Kami mencium adanya set back agenda, yang intinya ingin mengubah UU KPK, dan mengembalikan pemilu presiden langsung untuk dikembalikan ke MPR," kata Hasto beberapa saat lalu (Jumat, 3/10).

Atas dasar hal tersebut, lanjut Hasto, meskipun Pimpinan DPR RI tetap dipegang oleh Koalisi Merah Putih (KMP) dan ada kemungkinan pimpinan MPR juga diperlakukan sama, maka sikap partai pengusung Jokowi-JK tidaklah berubah. Sebab politik masuk dalam seluruh peradaban demokrasi, jika dilaksanakan dengan hati nurani dan tetap memegang teguh prinsip kedaulatan rakyat.

"Kedua hal inilah yangg menjadi landasan seluruh sikap politik kami. Sayang nilai musyawarah dan tradisi demokrasi yangg sehat telah dikalahkan oleh ambisi kekuasaan buta yangg mencabut hak politik rakyat," ungkap Hasto.

PDI Perjuangan, lanjut Hasto lagi, mengajak seluruh kelompok pro demokrasi untuk bersama-sama membela hak rakyat yangg berdaulat, sebab Indonesia yangg begitu besar tidak bisa dibangun oleh dendam politik. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya