. Petani dan nelayan adalah 'pemilik utama' dari Indonesia. Sebab faktanya, Indonesia adalah negara agraris dan maritim. Tapi, sangat ironis, pemilik negeri itu, nasibnya selalu terpuruk. Bahkan, selalu terpinggirkan sampai ke ujung gelanggang pembangunan. Mereka selalu jadi penonton dari derap pembangunan.
Demikian disampaikan Sekretaris Jenderal Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI), Benny Pasaribu dalam keterangannya kepada redaksi, Jumat (3/10).
Karena itu, kata dia, harus ada yang membela all out para petani. Bila tidak, mereka akan terus tergilas derap pembangunan yang acapkali menganak tirikan para petani. Sebab itu, ia terus merajut mimpi, mewujudkan cita-cita besar negeri ini berdaulat di sektor pangan, dimana petani benar-benar menjadi tuan rumah di tanah mereka sendiri. Tak seperti sekarang, petani terus jadi penonton, tak berdaya dan terpinggirkan. Lewat HKTI, ia coba mendedikasikan semua komitmen dan pengetahuannya untuk membela dan memajukan petani.
"Sekarang kelembagaan petani hancur atau sengaja dihancurkan, seperti koperasi, kelompok tani. Badan Urusan Logistik juga ikut dikerdilkan," ujar lelaki kelahiran Medan, 21 Desember 1958 yang biasa dipanggil Bang Ben itu.
Baginya, petani harus dibela mati-matian. Sebab selama ini, petani selalu diatasnamakan lewat pidato dan jargon-jargon penguasa, tapi nasibnya diabaikan. Sebab itu, ia begitu geram, begitu praktek kartel di sektor pangan merajalela di negeri ini. Ia pun dengan tegas menyatakan perang terhadap para pemain 'kartel pangan'.
"Praktik kartel pangan di Indonesia sudah terindikasi sejak lama dan kini dinilai sudah memasuki tahap yang sangat kronis dan berbahaya," kata Benny.
Benny yang pernah menjadi Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU), sebuah komisi penjaga persaingan usaha itu pun bercerita, bahwa sebenarnya sudah sejak lama ia melaporkan kepada Presiden SBY tentang sepak terjang pemain kartel pangan yang kian mencemaskan. Bahkan, ketika ia masih aktif jadi punggawa utama di KPPU, salah satu masalah yang ia coba pangkas adalah persaingan usaha yang melemahkan para petani. Petani, selalu dalam posisi dilemahkan oleh proses persaingan usaha yang tak sehat. Para pemain kartel pangan, berperan banyak membuat para petani terpuruk. Bisa dikatakan, mereka biang keladi yang membuat petani selalu jadi penonton di tanahnya sendiri.
“Pada 2010 saya sudah melaporkan kepada Presiden SBY kartel pangan ini sudah sangat berbahaya,†katanya.
Benny bersyukur, respon SBY ketika itu positif. Bahkan SBY mengatakan kepada publik, bahwa KPPU telah terbukti mampu menjaga stabilitas harga pada tingkat yang wajar, seperti harga minyak goreng, semen, tarif pesawat terbang dan SMS, yang semula diduga diatur oleh kartel. Namun kata dia, meski ia sekarang sudah tak lagi di KPPU, tapi ia bertekad tak akan bosan, apalagi lelah menyuarakan itu. Sebab bila dibiarkan kondisi itu, rakyat yang bakal menjadi korban dari praktik kartel yang sudah mencemaskan itu. Mereka para pemain kartel, seenaknya memainkan harga pangan di luar kewajaran.
"Lihat saja contoh soal pupuk," kata dia.
Bang Ben, mengaku sangat jengkel, saat musim tanam tiba, para petani justru kerap dihadapkan pada disituasi kelangkaan pupuk. Ia pun menenggarai kartel pangan ikut berperan terhadap masalah kelangkaan pupuk itu. "Sehingga mereka bisa seenaknya memainkan stok dan harga pupuk," katanya.
Bang Ben, juga marah, kalau ada yang menilai para petani Indonesia tak pintar, udik, gagap pengetahuan dan tak produktif. Bahkan menurutnya, petani Indonesia itu tahan banting, meski nasibnya selalu dibanting keras. Petani Indonesia juga sangat produktif dan profesional. Banyak dari petani di negeri ini yang kemampuannya cukup mengagumkan.
"Banyak dari para petani di Indonesia yang mampu mengidentifikasi jenis hama dan penyakit tanaman hanya dari penampilan fisik dan fisiologi tanaman. Itu tentu mengagumkan, jadi jangan anggap remeh petani kita," kata dia.
Karena itu, praktek kartel mesti ditumpas kelor, kata Benny. Caranya, keberpihakan pemerintah kepada petani harus konkrit dan nyata, tak hanya dalam pidato dan wacana atau rencana saja. Selain itu, berdayakan para petani dengan nyata, bukan lips service semata. Kuatkan kembali kelembagaan para petani, seperti koperasi dan kelompok tani. Wujudkan bank agro maritim. Serta kembalikan fungsi Bulog. Sebab ketika Bulog masih berfungsi, Indonesia pernah mengalami masa bebas dari cengkraman para mafia dan kartel pangan. "Saya minta fungsi-fungsi itu dikembalikan kepada Bulog dan koperasi," tandas dia.
[rus]