Berita

sby/net

SBY Masih Setengah Hati Keluarkan Perppu Bila...

JUMAT, 03 OKTOBER 2014 | 09:05 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1/2014 tentang Pemilihan Gubernur dan Bupati/Walikota seta Perppu Nomor 23/2014 tentang Pemerintahan Daerah yang diteken Presiden SBY seakan ingin mengkoreksi langkah Fraksi Demokrat yang memilih walk out dalam sidang paripurna DPR terkait RUU Pilkada.

Hanya saja, kata pengamat komunikasi politik Ari Junaedi, sikap SBY itu hendaknya sejalan dan seirama dengan sikap Fraksi Demokrat, karena dikhawatirkan jika Perppu itu nantinya masuk dalam rapat paripurna DPR dan dipilih jalan voting, suara yang dimiliki PDIP, Nasdem, PKB dan Hanura tetap akan kalah dengan suara yang dipunyai Koalisi Merah Putih.

Ari Junaedi sendiri masih belum yakin apakah sikap SBY terbaru soal pengeluaran Perppu tersebut nantinya akan didukung pula oleh Fraksi Demokrat di DPR. Hitung-hitungan di atas kertas, jumlah suara pendukung pilkada langsung masih kalah jauh dengan jumlah suara pengusul pilkada lewat DPRD yang dimotori Koalisi Merah Putih.


"Andai nanti Perppu masuk dalam pilihan voting untuk disetujui atau tidak, sikap Fraksi Demokrat akan menjadi penentu. Apakah Fraksi Demokrat tetap menyuarakan lidah SBY ataukah malah menyuarakan ludah Koalisi pengusung Prabowo-Hatta," ungkap Ari Junaedi kepada beberapa saat lalu (Jumat, 3/10).

Bagi pengajar Program Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) ini, masyarakat kadung kecewa dengan sikap SBY yang plin-plan dan tidak konsisten. Posisi jabatan wakil ketua DPR yang dijabat kerabat SBY ini juga potensial menjadi pemadam sikap gigih Fraksi Demokrat memperjuangkan pilkada langsung.

Belum lagi, lanjutnya, jika iming-iming posisi ketua MPR juga diberikan kepada Demokrat, maka bisa saja Perppu yang dikeluarkan SBY bernasib sama dengan pernyataan SBY di kanal youtube soal dukungannya terhadap pilkada langsung.

"Buktikan, SBY masih punya taji di kader-kadernya di DPR. Apakah para kader Demokrat masih taat dengan instruksi ketua umumnya atau malah ikut dalam sinetron politik yang kembali membuat luka rakyat Indonesia," demikian Ari Junaedi yang juga dosen S2 di Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya