Berita

net

Politik

Mega dan SBY Tidak Kunjung Rujuk, Stabilitas Pemerintahan Jokowi Terganggu

KAMIS, 02 OKTOBER 2014 | 21:56 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnputri dan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono adalah juru kunci stabilitas politik di pemerintahan Joko Widodo-Jusuf Kalla.

"Karena itu, mereka harus jadi negarawan dan berkomunikasi dengan baik," kata pengamat politik dari Universitas Prof. DR. Moestopo (Beragama), Dr. Andriansyah, saat diwawancara RMOL, Kamis sore (2/10.

Dia menilai SBY dan Mega mewakili dua kekuatan besar dalam perpolitikan nasional. Kalau salah satu dari mereka mempertahankan egonya maka pemerintahan mendatang akan terus terganggu.


"Sudah tiga kali saya lihat SBY buka peluang komunikasi dengan Mega. Tapi kok sepertinya masih ada keengganan Mega untuk menyambut," terangnya.

Selama komunikasi dan hubungan Mega dengan SBY tidak membaik, maka komunikasi politik di antara anak buah mereka di parlemen juga buruk.

"Kasihan, menghambat proses komunikasi politik teman-teman di parlemen. Fraksi-fraksi adalah kepanjangan tangan partai. Tapi pemimpin mereka begitu caranya," ujar Andri.

Meski begitu, Andri tidak mau menyebut Mega sebagai politisi yang minus akan sikap kenegarawanan. Yang ia lihat, Mega masih diselimuti rasa sakit hati yang dalam akibat pertikaian politik mereka di masa lalu.

"Ibu Mega ini bukan tidak negarawan, tapi cenderung tak bisa lepas dari konflik personal masa lalu, yang menurut saya tidak happy ending," ujarnya.

Ia menilai tidak ada dasar kuat yang membuat hubungan SBY dan Mega tidak bisa membaik. Mereka sama-sama saling membutuhkan demi langgengnya kepentingan politik masing-masing. Lagipula, dari semua mantan kepala dan wakil kepala negara, hanya Mega dan SBY yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik.

"Cuma mereka berdua yang tidak harmonis. Sebagai dua tokoh yang cukup berpengaruh sebaiknya mereka bersatu demi bangsa dan negara," tandas Andri.[ald]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Omongan Amien Rais Dibenarkan Publik selama Tak Dibantah Teddy

Kamis, 07 Mei 2026 | 02:15

UPDATE

Kapal-kapal yang Tertinggal

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:55

Teriakan ‘Bapak Aing’ Sambut Kirab Milangkala Tatar Sunda

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:36

Kebahagiaan Mahasiswa Baru

Sabtu, 09 Mei 2026 | 05:20

Pemerintah Mestinya Terbuka soal Harga Keekonomian BBM Bersubsidi

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:59

Nelayan Tradisional Soroti Tiga Isu Mendesak Masyarakat Pesisir

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:45

ASEAN dan Tantangan Ketahanan Energi Kawasan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 04:25

Eks Wakapolda Sulsel Jabat Kapolda Sulteng

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:59

KIOTEC Kunjungi Korsel Perkuat Kapasitas SDM Kelautan

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:40

Meritokrasi dan Integritas dalam Promosi Perwira Tinggi TNI-Polri

Sabtu, 09 Mei 2026 | 03:28

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

Selengkapnya