Berita

misbakhun/net

Tetap Kritis, Misbakhun Juga Tak Mau Masuk ke Senayan Tanpa Punya Agenda

RABU, 01 OKTOBER 2014 | 15:16 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat adalah sebuah kewajiban hakiki bagi anggota DPR. Sebab hal itu merupakan wujud dan tanggung jawab sebagai wakil rakyat yang harus menjaga amanah yang sudah diberikan oleh rakyat.

Demikian disampaikan anggota DPR dari Fraksi Golkar, Muhammad Misbakhun. Dulu, Misbakhun adalah anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dikenal vokal dan kritis. Kini, Misbakhun memastikan tetap kritis.

Ia pun tak mau menjadi wakil rakyat yang masuk ke Senayan tanpa punya agenda. Salah satu aspirasi yang ingin diwujudkannya adalah mendorong amandemen UU di bidang perbankan yang  sudah sangat liberal.


Menurut Misbakhun, stabilitas ekonomi Indonesia saat ini perlu diperkuat kembali dengan perbankan yang ditopang pemilik modal lokal sehingga mampu memberikan penguatan pada pertumbuhan sektor riil yang dikedalikan oleh pengusaha nasional. Dan saat ini kepemilikan asing di sektor perbankan dibolehkan sampai 100 persen dan ini harus mulai dibatasi.

"Sstabilitas ekonomi Indonesia saat ini juga perlu diperkuat kembali dengan perbankan yang ditopang pemilik modal lokal supaya pertumbuhan sektor keuangan Indonesia tidak hanya dinikmati oleh modal asing yang sudah sangat kuat menjadi makin kuat," kata Misbakhun di sela-sela pelantikan anggota DPR, DPD dan MPR di Gedung DPR, Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta (Rabu, 1/10).

Terakit dengan posisinya sebagai anggota Fraksi Golkar yang menjadi bagian dari Koalisi Merah Putih (KMP) dan akan berhadapan dengan kubu pendukung partai pemerintah, Misbakhun mengatakan bahwa hal yang perlu diingat adalah pentingnya mengedepankan komunikasi politik yang baik antara eksekutif dan legislatif demi memecahkan persoalan bangsa sebagaimana diamanatkan oleh konstitusi.

"Tidak boleh ada kebuntuan-kebuntuan dan keengganan komunikasi politik antar lembaga negara," demikian Misbakhun. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

Pantura Jawa Penyumbang 23-27 Persen PDB Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:19

Dari Riau, Menteri LH Dorong Green Policing Go Nasional

Senin, 04 Mei 2026 | 16:18

Purbaya Jawab Santai Sambil 'Geal-Geol' Diisukan Ambruk dan Mau Dipecat

Senin, 04 Mei 2026 | 16:05

Maritim Indonesia di Persimpangan AI

Senin, 04 Mei 2026 | 15:34

BPJS Kesehatan Siap Bangun Kantor Layanan di IKN

Senin, 04 Mei 2026 | 15:32

Imigrasi Tangkap WNA Terlibat Prostitusi Online di Bali

Senin, 04 Mei 2026 | 15:27

Keberpihakan Prabowo ke Ojol Perkuat Keadilan Ekonomi

Senin, 04 Mei 2026 | 15:26

Ade Kunang dan Sang Ayah Didakwa Terima Suap Rp12,4 Miliar

Senin, 04 Mei 2026 | 15:17

Giant Sea Wall Pantura Digarap 20 Tahun, Libatkan Investor dan 23 Kementerian

Senin, 04 Mei 2026 | 14:50

OPEC+ Umumkan Kenaikan Produksi Setelah Ditinggal UEA

Senin, 04 Mei 2026 | 14:45

Selengkapnya