Berita

foto:net

Politik

Saatnya Rakyat Tinggalkan Partai Penolak Pilkada Langsung

JUMAT, 26 SEPTEMBER 2014 | 08:54 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Rakyat yang selama ini menikmati demokrasi dengan memilih pemimpin daerah secara langsung, nanti akan dirampas oleh Anggota DPRD. Itulah salah satu dampak dari RUU Pilkada yang telah disahkan lewat mekanisme voting tadi malam.

Demikian dikatakan Ketua Umum Jaringan Kemandirian Nasional (Jaman), A. Iwan Dwi Laksono kepada , sesaat lalu (Jumat, 26/9).

"Kedaulatan rakyat yang selama ini menjadi tujuan mayoritas rakyat sebagai jalan untuk kesejahteraan, ditarik masuk 'kotak sulap' oleh sistem tersebut," terang Iwan.


Jelas aktivis 98 ini, keinginan rakyat untuk menentukan pemimpinnya dan keinginan untuk memimpin menjadi hilang, karena konsekuensi dari sistem ini adalah keputusan partailah yang akan menentukannya. Demokrasi minus kedaulatan rakyat dan surplus kekuasaan parpol alias elite.

Semua daerah di Indonesia, lanjut Irwan, sudah pasti akan dikalkulasi perolehan kursinya yang didapat dari suara rakyat lewat pemilu legislatif, yang kemudian kekuasaan kepala daerah akan dibagi-bagi oleh parpol. Hal ini akan semakin memudahkan kekuatan asing mencengkeram RI karena watak elit borjuasi Indonesia yang cenderung menjadi calo yang loyal atas kepentingan modal.

"Saatnya rakyat mengorganisir diri mulai saat ini untuk melakukan protes atas UU Pilkada ini dan meninggalkan dukungannya kepada parpol dan anggota DPR/DPRD yang teridentifikasi merampok kedaulatan rakyat tersebut yang terdiri dari Demokrat, PKS, Gerindra, Golkar, PKS, PPP dan PAN. Teristimewa Partai Demokrat dan SBY mempertontonkan 'jumpalitan politik' dengan pura-pura mendukung pilkada langsung, tapi nyatanya kabur meninggalkan sidang paripurna," demikian Irwan. [rus]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

AS dan Iran Kembali Saling Serang

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:02

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.400, BI Soroti Tekanan Global

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:32

Harga Minyak Melonjak Meski OPEC+ Berencana Tambah Produksi

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22

Polri Larang Anggota Live Streaming Saat Berdinas

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:18

Kenaikan HET MinyaKita Picu Harga Lewati Batas Wajar

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Prabowo Minta Kampus Bantu Pemda Atasi Masalah Sampah hingga Tata Kota

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Penyelidikan Korupsi Lahan Whoosh Mandek, KPK Akui Beban Perkara Menumpuk

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:08

Aktivis HAM Tak Perlu Disertifikasi

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Dubes Perempuan RI Baru Sekitar 10 Persen, Jauh dari Target 30 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Selengkapnya