Aksi menggeber motor sampai menimbulkan suara bising, jelas sangat mengganggu. Bagi Anda yang hobi pakai knalpot model ini, hati-hati. Tertangkap di jalan, Anda bisa langsung ditilang bahkan didenda hingga Rp 250.000.
Jika tidak ingin denda, ada huÂkuman lain yang bisa membuat jera. Seperti yang dilakukan oleh WaÂlikota Bandung Ridwan KaÂmil, yang kedapatan menghukum pengendara yang menggeber moÂtornya. Pria yang disapa Emil ini memÂberi "pelajaran" pada pemiÂlik motor berknalpot bising itu. MeÂÂreka disuruh mendengarkan suara knalpot bising dengan jarak kuÂrang dari setengah meter. AlÂhasil si pemuda pun langsung meÂrasa budeg sementara.
Nah, di ibukota saat ini sudah banyak yang meÂmoÂdifikasi motorÂnya dengan mengÂganti knalpot kendaraan. TuÂjuanÂnya agar suara knalpot leÂbih nyaÂring dan berisik. Untuk memÂbuat jera, mungkin apa yang dilaÂkukan Walikota BanÂdung bisa menÂjadi contoh bagi Pemprov DKI Jakarta maupun KeÂpolisian daÂlam meÂnindak para pengendara motor yang suka menggeber knalÂpotnya di jalan.
Pemerintah Provinsi (PemÂprov) DKI Jakarta pun diminta teÂgas menindak para pelanggar terÂsebut. Menurut pengamat transÂportasi Darmaningtyas, banyakÂnya peÂlangÂgar berupa modifikasi kenÂdaÂraan bermotor mulai dari knalpot hingga ban yang dibuat keÂcil, dikarenakan minimnya peÂmaÂhamÂan soal aturan larangan peruÂbahan komponen kendaraan yang meÂngganggu keamanan dan keÂtertibÂan masyarakat (Kamtibmas).
“Sudah jarang ada penindakan terkait masalah itu. Usaha rumahÂan yang memodifikasi knalÂpol juga tidak ada yang mengaÂwasi. Ketika kita membiÂcarakan knalÂpot, maka terkait bentuk, emisi gas buang, serta kebisingan suara yang dihaÂsilkan. Tapi masalahnya di kita beÂlum ada yang namanya uji kebisiÂngan,†ujar pria yang akrab disapa Tyas ini.
Menurutnya, soal aturan juga harus diperjelas, karena dalam DaÂlam Undang-Undang Nomor 22 TaÂhun 2009 tidak disebutkan deÂngan jelas batasan ambang kebiÂsingan knalpot. Pasal 48 ayat 3 b hanya disebutkan kebisingan suara. Ini yang menjadi masalah di masÂyarakat, tingkat kebisingÂan dan mengganggu hanya seÂbaÂtas penÂdengaran telinga saja.
Ia menyarankan, tak hanya KeÂpolisian yang menindak dari segi aturan lalulintas. DiÂnas PerhubuÂngan (Dishub) juga diminta turut campur, terÂutama terkait emisi gas buang.
“Jadi nanti ada label apakah tingkat kebisingan ini dalam leÂvel aman atau tidak,†pintanya.
Seorang warga Jakarta, Arifin WiÂjaya mengungkapkan, meÂmang sudah banyak pemotor khuÂÂsusnya yang menggunakan knalÂpot bising ini. Namun, yang ia lihat di lapangan memang jaÂrang ada penindakan.
“Sudah sering sih melihat di jalan. Apalagi di jalan-jalan kamÂÂpung, bahkan di jalan raya yang sengaja menggeber motornya di jaÂlan, hingga menimbulkan suaÂra bising dan kepulan asap. Jelas biÂkin kaget. Konsentrasi saat meÂngendarai juga kacau, bisa baÂhaÂya hingga kecelakaan. Tapi seÂpertinya mereka santai saja. KaÂlaupun ada polisi di pinggir jalan, sepertinya tidak mengÂgubris,†ujarnya.
Tak hanya penggunaan knalpot bising, karyawan swasta ini juga meminta agar pihak Kepolisian maupun Dinas Perhubungan ikut menindak komponen lain yang sudah dimodifikasi pada motor karena mengganggu keterÂtiban dan keamanan masyarakat.
“Sekarang juga banyak tuh, moÂtor atau mobil yang membuat lampu kendaraannya seterang mungkin tanpa memperkirakan bahaya yang mungkin terjadi. Ini juga harus ditindak," kata Arifin.
Selain Arifin, Surya, salah seÂorang warga di Latumenten, JaÂkarta Barat juga mengaku kerap merasa tak nyaman dengan suara knalpot yang bising. Bahkan gaÂra-gara knalpot bising, di kawasÂan Latumenten pernah terjadi keributan hingga tawuran antar anak muda.
“Biasanya anak-anak remaja tanggung itu merasa sok keren kalau knalpotnya diganti, terus geber-geÂber sana-sini serta ugal-ugalan di jalan tanpa menghirauÂkan keseÂlamatan orang lain. GiÂliran ditegur atau dinasehati, meÂrasa tidak senang terus ribut,†tuturnya.
Geber Motor Di Jalan Bisa Didenda Rp 250 Ribu Meski masih terlihat minim peÂnindakannya di lapangan, KeÂpala Subdit Penegakan HuÂkum DitÂlantas Polda Metro Jaya AKBP Hindarsono mengaku, denda dan tilang terhadap pelanggar yang menggunakan knalpot bising teÂtap dilakukan.
Menurutnya, selama ini peninÂdakan terhadap knalpot bising dilakukan dengan metode yang mobile. Karena para pelanggar yang ditemukan hanya beberapa kasus saja di setiap wilayah.
“Penindakan terhadap knalpot bising kan tidak seperti peÂninÂdakÂan terhadap kelengkapan suÂrat-surat kendaraan yang selama ini terkena tilang. Tapi saya jaÂmin, jika ditemukan yang pakai knalÂpot bising langsung kami tilang. Bahkan sudah pernah sekitar 20 sampai 30 unit knalpot kita musÂnahkan,†katanya kepada
Rakyat Merdeka.
Penggunaan knalpot bising, kata Hindarsono, masuk kategori peÂlangÂgaran lalulintas yang bisa memÂbaÂhayakan keselamatan orang lain. Ia berjanji tidak akan teÂbang pilih dalam penerÂtiban ini. Motor besar atau kecil yang meÂmaÂkai knalpot racing akan diÂtindak.
"Tidak peduli itu motor kecil atau motor besar, kalau memang menyalahi aturan dan mengÂganggu karena knalpot yang diÂgunakan sudah tidak standar pabÂrikan, sudah masuk kategori meÂlanggar. Maka, akan kita tilang,†terangnya.
Kategori knalpot yang bisa diÂkenakan tilang, ujar HindarÂsono, merupakan knalpot bawaan su–dah dibobok atau knalpot berisik yang beli di toko. “Beda kalau knalpot standar kan biasanya tiÂdak ada suara,†ujarnya.
Ia menjelaskan, knalpot berÂsuara bising, merujuk pada aturan UnÂdang Undang Nomor 22 tahun 2009 tentang Lalulintas dan AngÂkutan Jalan (LLAJ) yang meÂngÂancam sanksi bagi pengÂguna knalÂpot bising, yakni pidana kurungan paling lama satu bulan atau denda paling banyak Rp 250.000.
Di sisi lain, ada pula Peraturan Menteri Negara Lingkungan HiÂdup No.07/2009 tentang AmÂbang Batas Kebisingan KendaÂraan Bermotor Tipe Baru yang diteken Menneg LH Rachmat Witoelar pada 6 April 2009.
Dalam Permen LH tersebut diÂsebutkan, batas ambang kebiÂsiÂngan sepeda motor terdiri atas, untuk tipe 80 cc ke bawah makÂsimal 85 desibel (db). Lalu, tipe 80-175cc maksimal 90 db dan 175cc ke atas maksimal 90 db.
Untuk di Jakarta, kata HindarÂsono, pelanggar yang mengÂguÂnakan knalpot bising masih daÂlam kategori yang jarang. Hal ini memang berbeda dengan di wiÂlayah lain seperti Bogor maupun Bandung.
Meski begitu, ia lebih menyaÂrankan para pemotor lebih baik menggunakan knalpot standar saja. “Di jalan juga kan ada hak orang lain untuk merasa aman dan nyaman, tidak terganggu, jalan bukan milik kita sendiri. Untuk itu sangat perlu saling menjaga ketertiban dan ketenaÂngan untuk kebaikan bersama," imbaunya. ***