Berita

anas urbaningrum/net

Hukum

Ini Penjelasan di Balik Sumpah Mubahalah yang Diserukan Anas

RABU, 24 SEPTEMBER 2014 | 19:22 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Ada yang menarik. Terpidana kasus Hambalang, Anas Urbaningrum, meminta lima anggota majelis hakim dan jajaran Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang bersidang dalam kasusnya melakukan sumpah mubahalah atau sumpah kutukan.

Seruan untuk sumpah kutukan dilontarkan Anas usai meminta waktu untuk berkonsultasi dengan keluarga dan melakukan istikharah terkait vonis 8 tahun penjara yang dijatuhkan kepadanya.

Secara singkat Anas menjelaskan tentang makna sumpah itu kepada wartawan di depan gedung Pengadilan Tipikor sebelum ia dibawa kembali ke Rumah Tahanan KPK, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (24/9).


"Sumpah mubahalah atau sumpah kutukan. Dalam tradisi Islam ada. Sumpah kutukan adalah janji, siapa yang bersalah dia bersedia dikutuk oleh Tuhan. Dikutuk oleh Gusti Allah dirinya dan keluarganya. Saya mengatakan itu karena ini tidak adil. Sayang tidak ada tanggapan, tapi itu tidak apa-apa," jelas Anas Urbaningrum kepada wartawan.

Mengenai sumpah muhabalah ini, banyak orang mengartikannya sama dengan sumpah pocong. Polemik sumpah pocong dan sumpah muhabalah atau sumpah kutukan ini sempat marak di beberapa tahun silam, ketika terjadi pertengkaran antara Ketua Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab, dan mantan Presiden RI, almarhum Gus Dur, mengenai aliran Ahmadiyah pada tahun 2008.

Tersiar kabar saat itu, Habib Rizieq menantang Gus Dur melakukan sumpah pocong untuk membuktikan siapa yang benar di antara mereka: Habib Rizieq yang meminta agar Ahmadiyah dibubarkan, atau Gus Dur yang membela Ahmadiyah. Hal lain yang dikatakan Habib Rizieq adalah keinginannya mengajak Gus Dur ber-mubahalah. Di satu sisi Gus Dur bersama istri dan anak-anaknya, dan di sisi lain Habib Rizieq bersama istri dan anak-anaknya.

Nah, kata mubahalah inilah yang diartikan oleh sebagian orang, termasuk beberapa tamu yang mengunjunginya, sebagai ajakan sumpah pocong. Dalam pembicaraan sehari-hari di tengah masyarakat, kata ini memang kerap diartikan sebagai sumpah pocong.

Dalam penjelasan yang terdapat dalam blog teguhtimur.com, Mubahalah, dalam beberapa literatur, diartikan sebagai ujian kebenaran melalui doa. Ia merupakan satu dari kaedah hukum yang disebut dalam Quran. Kaedah lain adalah qisas atau hukuman balasan sama, ta’zir, atau budi bicara hakim mengikut dua prinsip universal hukuman, diat atau bayaran ganti-rugi, li’an atau sumpah laknat, dan kaffarah atau penebusan dosa.

Salah satu ayat dalam Al Quran yang menyebut soal mubahalah ini adalah ayat 61 Surat Al Imran, yang berbunyi, "Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu, maka katakanlah: "Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita ber-mubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta."

Kata mubahalah dalam ayat ini lebih tepat bila diartikan menguji kebenaran dan berharap petunjuk dari Allah SWT atas persoalan-persoalan pelik yang tak mudah dipecahkan. Termasuk, dalam ayat itu, berkaitan dengan Nabi Isa AS.

Entah mengapa, menurut penstudi Islam Muhammad Rusmadi, di kalangan masyarakat Islam Jawa Timur, kata mubahalah diartikan sebagai sumpah pocong. Padahal, kata pemimpin redaksi Tabloid Haji yang juga pimpinan Majelis Taklim dan Dzikir Pengantin Sakaratul Maut itu, minimal kata mubahalah dapat diartikan dengan "perang doa".

Dalam mubahalah, pihak-pihak yang berbeda pendapat, bertemu di satu tempat dan saling memanjatkan doa kepada Allah agar ”menimpakan laknat kepada salah satu dari dua pihak yang berdusta.”

Sementara dalam praktik mubahalah yang dikembangkan sementara kalangan masyarakat Islam di Jawa, pihak-pihak yang berbeda pendapat dikafani, umumnya di dalam masjid dan disaksikan jamaah, lantas bersumpah bahwa mereka tidak berdusta. [ald]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Menkeu Baru Angkat Bicara Soal Perombakan Pejabat Bea Cukai dan Dirjen Pajak

Senin, 14 September 2026 | 17:28

UPDATE

Dina Sulaeman: Sikap Prabowo Beri Pesan Diplomatik Kuat untuk Palestina

Minggu, 20 September 2026 | 09:51

Ekonom Ungkap Skema Pendidikan Gratis PTN Tanpa Menguras APBN

Minggu, 20 September 2026 | 09:43

Prabowo Berencana Produksi Bensin dari Batu Bara

Minggu, 20 September 2026 | 08:56

Humanika: Jangan Jatuhkan Prabowo Sebelum Lima Tahun

Minggu, 20 September 2026 | 08:49

Sesuai Ambisi Prabowo, Kampus Negeri Jangan Cari Duit dari Mahasiswa Lagi

Minggu, 20 September 2026 | 08:22

Dubes Palestina Ungkap Momen Emosional Saat Peluk Prabowo di Gontor

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Ekonom: Prabowo Tinggal Lanjutkan Pendidikan Gratis dari SBY

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Keretakan Peradaban

Minggu, 20 September 2026 | 07:38

Wadanyon OPM Kodap 35 Bintang Timur Yahukimo Diringkus TNI

Minggu, 20 September 2026 | 06:46

DPD Tawarkan Solusi Netral Fiskal Demi Ekonomi Berlari Kencang

Minggu, 20 September 2026 | 06:19

Selengkapnya