Sekalipun Munas IX Partai Golkar baru digelar tahun 2015, munculnya para kandidat ketua umum membuktikan partai berlambang pohon beringin ini masih memiliki magnet dan captive market di masyarakat. Kendati masih ada kelompok yang mendesak agar Munas dipercepat Oktober 2014.
Menurut pengamat politik, Rusmin Effendy, siapapun yang maju dalam bursa calon ketum haruslah figur yang mampu mengembalikan citra positif dan paradigma Golkar sebagai partai rakyat.
"Perlu ada gerakan back to Golkar dan menjadikan Golkar sebagai partai petarung yang mampu memperjuangkan aspirasi rakyat," ujarnya di Jakarta, Rabu (24/9).
Rusmin mengatakan, sepantasnya diapresiasi langkah beberapa elit Golkar yang telah mendeklarasikan diri maju dalam bursa kandidat ketum sebagai proses regenerasi kepemimpinan di tubuh partai.
"Saya kira apa yang sudah dilakukan para kandidat ketua umum dengan cara melakukan konsolidasi ke daerah-daerah mencari dukungan sesuatu yang positif. Yang penting, semuanya punya hak dan kesempatan yang sama untuk meraih dukungan dari DPD I maupun II Golkar. Soal siapa yang bakal terpilih nanti, tergantung Munas yang menentukan," kata dia.
Menanggapi gerakan Eksponen Ormas Tri Karya Golkar (EO-TKG) yang dipimpin Zainal Bintang agar Munas tetap dilaksanakan Oktober, Rusmin menjelaskan, apa yang dilakukan Zainal Bintang itu ibarat memukul angin saja.
"Semua orang kan tahu siapa Zainal Bintang, apa sih prestasi yang sudah dilakukannya buat Golkar. Sebaiknya dia membenahi aja Ormas MKGR, apakah sudah benar atau belum. Kita 'kan harus belajar berorganisasi dengan benar," kritiknya.
Jika memang tak setuju Munas IX digelar tahun depan, jelas Rusmin, seharusnya disuarakan saat Munas VIII di Pekanbaru.
"Kenapa dulu tidak ada suara menentang keputusan tersebut," ujarnya pula
.[wid]