Berita

Dunia

Amnesty International Kritisi Produksi "Alat Siksa" Tiongkok

SELASA, 23 SEPTEMBER 2014 | 11:52 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Lebih dari 100 perusahaan Tiongkok dikabarkan memproduksi dan mengekspor alat penyiksaan seperti alat kejut listrik dan tongkat logam berduri.

Menurut catatan Amnesty International pada Selasa (23/9), ada lebih dari 130 perusahaan Tiongkok yang terlibat dalam proses produksi atau perdagangan peralatan yang biasanya dipasarkan ke lembaga penegak hukum. Jumlah tersebut naik dari hanya sekitar 28 perusahaan pada satu dekade lalu.

Amnesty mengkritisi bahwa peralatan yang diproduksi itu bisa memfasilitasi pelanggaran HAM yang dilakukan oleh otoritas penegak hukum di negara-negara Afrika ataupun Asia Tenggara.


"Ketika sejumlah ekspor tidak diragukan lagi digunakan untuk melegitilasi operasi penegakkan hukum, Tiongkok juga mengekspor peralatan yang bisa memberikan efek tidak manusiawi atau mengajukan resiko subtansian dengan membantu pelanggaran HAM dengan agen penegak hukum asing," kata Amnesty dalam sebuah laporan dikutip Reuters.

Menurut data Amensty, salah satu perusahaaan, China Xining Import/Exsport Corporation misalnya, pada tahun 2012 memiliki hubungan dengan lebih dari 40 negara Afrika.

Organisasi yang berbasis di Inggris itu melakukan penelitian perdagangan dan penggunaan peralatan keamanan militer serta kepolisian.

Tiongkok diketahui merupakan investor utama di Afrika. Dalam periode 2010 hingga 2012 lalu, misalnya, ada lebih dari 14 miliar dolar AS bantuan digelontorkan Tiongkok ke Afrika.

Amnesty mengatakan, berdasarkan sejumlah berita foto di Ghana, Senegal, Mesir dan Madagaskar menunukkan bahwa polisi membawa sengatan listrik buatan Tiongkok. [mel]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi Malaysia Tumbuh 4,9 Persen di 2025

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:16

Kuota Pembelian Beras SPHP Naik Jadi 25 Kg Per Orang Mulai Februari 2026

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:02

Analis: Sentimen AI dan Geopolitik Jadi Penggerak Pasar Saham

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:46

Hasto Bersyukur Dapat Amnesti, Ucapkan Terima Kasih ke Megawati-Prabowo

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:26

Bripda Rio, Brimob Polda Aceh yang Disersi Pilih Gabung Tentara Rusia

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jalan Menuju Pengentasan Kemiskinan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:16

Legislator Golkar: Isra Miraj Harus Jadi Momentum Refleksi Moral Politisi

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:14

Skandal DSI Terbongkar, Ribuan Lender Tergiur Imbal Hasil Tinggi dan Label Syariah

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:46

Harga Minyak Menguat Jelang Libur Akhir Pekan AS

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:35

Guru Dikeroyok, Komisi X DPR: Ada Krisis Adab dalam Dunia Pendidikan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:24

Selengkapnya