Mantan menteri keuangan Afghanistan Ashraf Ghani akhirnya muncul sebagai presiden terpilih setelah menandatangani kesepakatan untuk berbagi kekuasaan dengan pesaingnya, Abdullah Abdullah pada Minggu (21/9).
"Komisi Pemilu Independen Afghanistan menyatakan Dr Ashraf Ghani Ahmadzai sebagai presiden Afghanistan," kata kepala komisi Ahmad Yousuf Nuristani.
Hasil itu sekaligus mengakhiri sengketa pemilu yang terjadi selama beberapa bulan terakhir di Afghanistan.
Di bawah kesepakatan yang ditandatangani di Istana Kepresidenan itu, Ghani akan berbagi kekuasaan dengan kepala aksekutif yang diusulkan oleh Abdullah. Keduanya kemudian akan berbagi kendali soal siapa yang memimpin institusi kunci seperti militer Aghanistan dan keputusan eksekutif lainnya.
Ghani sendiri diperkirakan akan dilantik sebagai presiden pada 29 September mendatang.
Pemilu Afghanistan yang digelar 14 Juni lalu memicu sengketa setelah hasil awal pemilu memunculkan Ghani sebagai pemenang. Calon presiden lainnya, Abdullah Abdullah menuding kubu lawan melakukan kecurangan. Setelah beberapa bulan bersengketa dan dengan dimediasi oleh Amerika Serikat, akhirnya keduanya sepakat untuk membentuk pemerintahan bersama dan hasil pemilu secara resmi tidak dirilis.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat John Kerry sendiri menyambut hasil akhir sengketa pemilu Afghanistan itu. Kerry menyebut, kepemimpinan baru Afghanistan membawa angin segar bagi perjanjian kesepakatan bilateral dengan Amerika Serikat.
"Mereka terlah bergabung bersama dalam pemerintahan persatuan yang menawarkan kesempatan besar untuk kemajuan di Afghanistan," kata Kerry sebelum menggelar pertemuan dengan PBB di New York dikutip
Reuters.
[mel]