Berita

ilustrasi/net

IBADAH HAJI 2014

Komisi Haji Minta Pemerintah Tegas Terhadap Penginapan Wanprestasi

SENIN, 22 SEPTEMBER 2014 | 03:16 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Pemerintah diminta tegas terhadap penyedia akomodasi (majmuah) yang menyebabkan 17.000 jamaah haji Indonesia di Madinah tinggal di penginapan di luar yang disepakati.

"KPHI kaget, di Madinah penempatan 17.000 jamaah di luar markaziyah (berjarak lebih dari 650 meter dari Masjid Nabawi)," ujar Ketua Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI), Slamet Effendy Yusuf di Makkah, Minggu (21/9).

Solusi untuk jangka pendek, kata Slamet Effendy, selain benar-benar diperhatikan trasportasi yang mengantar jamaah ke Masjid Nabawi, maka segala sanksi dan denda yang ditimbulkan akibat tindakan majmuah tersebut harus diperjuangkan.


Selama di Madinah, jamaah bisa melaksanakan sunah arbain atau sholat lima kali sehari selama delapan hari tanpa putus di Masjid Nabawi sehingga diperlukan jarak yang dekat untuk dapat melaksanakannya dengan lancar.

Slamet Effendy juga meminta agar jamaah haji gelombang kedua yang baru akan masuk ke Madinah sesudah puncak haji harus bisa ditempatkan di markaziyah.

Ke depan, lanjut Slamet Effendy, kontrak dengan majmuah, terutama yang wanprestasi, harus ketat seperti sudah diketahui nama hotelnya dan alamatnya dengan jelas sejak awal kontrak. Selain itu harus terus dilakukan pengawasan secara bertahap sehingga jangan sampai jamaah sudah datang ternyata penginapan dipindahkan ke tempat lain.

Jika ada penyedia penginapan lain, sambungnya, maka majmuah yang wanprestasi perlu dimasukan dalam daftar hitam sebab perusahaan yang sudah berbuat tidak baik telah mencoreng hubungan baik dua negara.

Seperti dilansir dari Antara, Slamet Effendy juga mengingatkan bahwa Indonesia mengirimkan jamaah haji terbesar sehingga seharusnya mempunyai daya tawar yang tinggi. [rus]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

AS dan Iran Kembali Saling Serang

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:02

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.400, BI Soroti Tekanan Global

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:32

Harga Minyak Melonjak Meski OPEC+ Berencana Tambah Produksi

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22

Polri Larang Anggota Live Streaming Saat Berdinas

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:18

Kenaikan HET MinyaKita Picu Harga Lewati Batas Wajar

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Prabowo Minta Kampus Bantu Pemda Atasi Masalah Sampah hingga Tata Kota

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Penyelidikan Korupsi Lahan Whoosh Mandek, KPK Akui Beban Perkara Menumpuk

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:08

Aktivis HAM Tak Perlu Disertifikasi

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Dubes Perempuan RI Baru Sekitar 10 Persen, Jauh dari Target 30 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Selengkapnya