Berita

Pemerintah Didesak Realisasikan Pemasangan 4000 Konverter Kit Pada Angkutan Umum

JUMAT, 19 SEPTEMBER 2014 | 17:32 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Pemerintah diminta serius merealisasikan pemasangan 4000 konverter kit pada angkutan umum pada tahun ini.  Pemerintah diingatkan jika tidak serius maka program tersebut akan gagal seperti yang terjadi pada tahun 2012 dan 2013.

"Jika tahun ini gagal maka selama tiga tahun kita gagal melakukan konversi BBM ke BBG untuk angkutan umum. Keterlaluan, waktu tiga tahun tidak cukup untuk mengatasi permasalahan yang ada," ujar anggota Komisi IV DPR RI FPKS, Habib Nabiel Almusawa dalam keterangannya (Jumat, 19/9).

Awal Maret lalu, Kementerian Perindusterian (Kemperin) mengungkapkan rencana memasang 4000 hingga 4.600 unit konverter kit tahun ini. Alat ini akan dipasang pada angkutan umum di Jabodetabek, Surabaya, Bandung, dan Semarang dengan alokasi anggaran sekitar Rp 200 miliar. Program ini sudah direncanakan dan dianggarkan pada tahun 2012 dan 2013. Namun, pelaksanaannya terus ditunda karena berbagai kendala, terutama kurangnya fasilitas pengisian stasiun bahan bakar gas (SPBG).


Kendala lain karena program ini menyangkut dua kementerian, yakni Kemenperin dan Kementerian ESDM. Baru pada 2014, Kemenperin ditetapkan sebagai lembaga yang mengeksekusi program ini.

Menurut Habib, kendala kurangnya SPBG mestinya tidak menjadi alasan untuk merealisasikan program ini.  

"SPBG yang ada saja dioptimalkan. Jadi untuk menjalankan program konversi ini jangan menunggu sampai jumlah SPBGnya banyak dulu.  Jika demikian, mau kapan program ini akan direalisasikan ? Membangun SPBG itu tidak murah," papar dia..

Dengan terealisasinya program ini, akan sangat membantu meningkatkan penghasilan para sopir angkutan umum yang notabene adalah masyarakat kecil.  

"Kalau beli bensin, para sopir angkutan umum ini bayar Rp 6500.  Tapi kalau beli BBG, mereka cuma bayar Rp 3100.  Kan selisihnya bisa buat tambahan penghasilan mereka," pungkas Habib.[dem]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

AS dan Iran Kembali Saling Serang

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:02

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.400, BI Soroti Tekanan Global

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:32

Harga Minyak Melonjak Meski OPEC+ Berencana Tambah Produksi

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22

Polri Larang Anggota Live Streaming Saat Berdinas

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:18

Kenaikan HET MinyaKita Picu Harga Lewati Batas Wajar

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Prabowo Minta Kampus Bantu Pemda Atasi Masalah Sampah hingga Tata Kota

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Penyelidikan Korupsi Lahan Whoosh Mandek, KPK Akui Beban Perkara Menumpuk

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:08

Aktivis HAM Tak Perlu Disertifikasi

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Dubes Perempuan RI Baru Sekitar 10 Persen, Jauh dari Target 30 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Selengkapnya