Berita

skotlandia/net

Dunia

Mayoritas Pilih "No", Skotlandia Dipastikan Tetap Jadi Bagian dari Britania Raya

JUMAT, 19 SEPTEMBER 2014 | 14:15 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Sebagian besar warga Skotlandia memilih "No" ketika ditanyai soal apakah Skotlandia haru menjadi negara yang merdeka dalam pengungutan suara yang digelar kemarin (Kamis, 18/9). Dengan demikian, Skotlandia akan tetap menjadi bagian dari Britania Raya, bersama dengan Inggris, Wales, dan Irlandia Utara.

Dari hasil perhitungan suara, 31 dari 32 daerah otoritas lokal di Skotlandia yang menjadi tempat perhitungan suara mendeklarasikan hari ini (Jumat, 19/9) bahwa sebagian besar warga Skotlandia menolak untuk melepaskan diri dari Inggris.

Sekitar 4.2 juta warga Skotlandia atau 97 persen dari pemilih yang terdaftar menggunakan hak suaranya pada pemungutan suara kemarin di 2.608 tempat pemungutan suara yang disediakan.


Hasilnya, sebanyak 1.914.187 warga Skotlandia atau sekitar 55 persen memilih "No" atau menolak kemerdekaan dan 1.539.920 lainnya memilih "Yes".

Perdana Menteri David Cameron menyambut baik hasil tersebut.

"Seperti jutaan orang lainnya, saya merasa senang," kata Cameron dalam pernyataan yang ditayangkan di televisi.

Cameron menambahkan, dirrinya akan merasa terluka bila melihat Britania Raya terpecah. Namun ia mengapresiasi upaya kampanye kedua belah pihak.

"Kami mendengar kalian," sambungnya sambil menambahkan bahwa bagi masyarakat yang memilih untuk merdeka, ini adalah kesempatan untuk mengubah bagaimana cara pemerintahan Britania Raya memimpin. "Mengubah untuk yang lebih baik," tutur Cameron.

Pasca hasil pemungutan suara itu, Cameron berjanji untuk memberikan perhatian lebih bagi Skotlandia.

Hasil tersebut sekaligus membantah kekhawatiran yang muncul baik dalam hal politik ataupun ekonomi bila Skotlandia merdeka.

"Risiko gangguan besar dari kemerdekaan Skotlandia hilang. Untuk saat ini pasar dapat kembali normal," kata ekonom di Bank Berenberg Robert Wood dikutip BBC. [mel]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi Malaysia Tumbuh 4,9 Persen di 2025

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:16

Kuota Pembelian Beras SPHP Naik Jadi 25 Kg Per Orang Mulai Februari 2026

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:02

Analis: Sentimen AI dan Geopolitik Jadi Penggerak Pasar Saham

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:46

Hasto Bersyukur Dapat Amnesti, Ucapkan Terima Kasih ke Megawati-Prabowo

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:26

Bripda Rio, Brimob Polda Aceh yang Disersi Pilih Gabung Tentara Rusia

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jalan Menuju Pengentasan Kemiskinan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:16

Legislator Golkar: Isra Miraj Harus Jadi Momentum Refleksi Moral Politisi

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:14

Skandal DSI Terbongkar, Ribuan Lender Tergiur Imbal Hasil Tinggi dan Label Syariah

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:46

Harga Minyak Menguat Jelang Libur Akhir Pekan AS

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:35

Guru Dikeroyok, Komisi X DPR: Ada Krisis Adab dalam Dunia Pendidikan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:24

Selengkapnya