Berita

ilustrasi/net

Politik

Mobil Jakarta Ditolak, Terbukti Pemerintah Sedang Beternak Konflik

JUMAT, 19 SEPTEMBER 2014 | 01:17 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Jangan anggap remeh wacana larangan kendaraan bernomor polisi Jakarta (pelat B) masuk ke kota Bandung dan Bogor.

"Ini sebuah reaksi dari masyarakat terhadap kemacetan yang disampaikan lewat pemimpinnya,” kata Ketua Presidium Indonesia Traffic Watch (ITW), Edison Siahaan, dalam rilisnya, Kamis (18/9).

Beberapa waktu lalu, Edison sudah mengingatkan agar pemerintah serius mewujudkan Keamanan, Keselamatan, Ketertiban, Kelancaran (Kamseltibcar) lalu lintas. Menurutnya, pemerintah sama saja beternak konflik jika masalah kemacetan tidak segera diatasi.


"Nah, sekarang ini indikasi ternak konflik itu sudah mulai berbuah,” ujarnya.

Sikap pemerintah daerah yang melarang kendaraan asal Jakarta masuk ke Bandung dan Bogor karena memicu kemacetan adalah potret kekesalan warganya. Walau begitu, larangan tersebut tidak dilandasi dasar hukum yang kuat. Tetapi, Edison mengingatkan, pemerintah harus waspada karena tak menutup kemungkinan larangan itu akan langsung dilakukan oleh warga Jawa Barat.

"Kalau itu yang terjadi maka pemerintah akan menghadapi persoalan yang lebih serius," jelasnya.

ITW mendesak pemerintah pusat maupun daerah segera mewujudkan transportasi massal terpadu yang terjangkau serta aman, nyaman, selamat, dan juga yang bisa menghubungkan semua daerah yang menjadi tujuan masyarakat.

Menurut Edison, seharusnya sudah sejak lama pemerintah membangun transportasi massal khususnya yang menghubungkan wilayah Ibukota Jakarta dengan wilayah-wilayah penyanggah seperti Bogor, Depok, Tengerang, Bekasi. Sehingga, warga yang bermukim di daerah penyanggah tetapi bekerja di Jakarta tidak lagi menggunakan kendaraan pribadi.

"Jangan larangan itu dianggap angin lalu, jika tidak ingin angin terus bertiup bahkan semakin kencang dan akhirnya memporak-porandakan kursi empuk para pejabat negeri ini," tandas Edison. [ald]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Connie Nilai Istilah Sabotase KSAD Berpotensi Bangun Framing Ancaman di Tengah Bencana

Rabu, 31 Desember 2025 | 13:37

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

UPDATE

DPR Dukung Pasutri Gugat Aturan Kuota Internet Hangus ke MK

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:51

Partai Masyumi: Integritas Lemah Suburkan Politik Ijon

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:28

Celios Usulkan Efisiensi Cegah APBN 2026 Babak Belur

Jumat, 02 Januari 2026 | 23:09

Turkmenistan Legalkan Kripto Demi Sokong Ekonomi

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:39

Indonesia Kehilangan Peradaban

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:18

Presiden Prabowo Diminta Masifkan Pendidikan Anti Suap

Jumat, 02 Januari 2026 | 22:11

Jalan dan Jembatan Nasional di 3 Provinsi Sumatera Rampung 100 Persen

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:55

Demokrat: Diam Terhadap Fitnah Bisa Dianggap Pembenaran

Jumat, 02 Januari 2026 | 21:42

China Hentikan One Child Policy, Kini Kejar Angka Kelahiran

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:44

Ide Koalisi Permanen Pernah Gagal di Era Jokowi

Jumat, 02 Januari 2026 | 20:22

Selengkapnya