Berita

skotlandia/net

Dunia

Tiongkok Deg-Degan Tunggu Hasil Referendum Skotlandia

KAMIS, 18 SEPTEMBER 2014 | 15:27 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Perhatian dunia hari ini (Kamis, 18/9) tertuju pada pemungutan suara terkait referendum kemerdekaan yang tengah digelar di Skotlandia, tak terkecuali Tiongkok.

Pasalnya, bila lebih dari empat juta warga Skotlandia yang memiliki hak suara memilih untuk memerdekakan diri dari Britania Raya, maka hal itu akan membuat nasib sejumlah perusahaan Tiongkok di Britania raya, termasuk Skotlandia menjadi tidak pasti. Hal itu bisa berimbas pada pengurangan atau penarikan investiasi Tiongkok ke Inggris dalam jangka pendek.

Perdana Menteri Tiongkok Li Keqiang sebelumnya sempat menyebut bahwa ia berharap Skotlandia akan tetap menjadi wilayah yang kuat, sejahtera, dan bersatu dengan Britania Raya.


Pernyataan serupa juga pernah dilontarkan oleh Wakil Menteri Keuangan Tiongkok Zhu Guangyao. Ia menyebut bahwa investor membutuhkan stabilitas dalam benanamkan modalnya.

Menurut perusahaan penasehat lintas batas Capital, investor asing sendiri telah menarik sebagian dananya di Inggris menyusul kekhawatiran bahwa referendum yang digelar hari ini akan menyisakan kemerdekaan Skotlandia. Penarikan itu merupakan yang terbesar di Inggris sejak krisis keuangan tahun 2008 lalu.

Menurut keterangan pemerintah, dikutip Asia One, Inggris merupakan tujuan paling populer bagi investasi Tiongkok yang telah menyediakan lebih dari enam ribu pekerjaan baru di negara itu.

"Ketidakpastian atas kemerdekaan Skotlandia dapat menyebabkan perusahaan Tiongkok di Inggris menahan investasi lebih lanjut untuk menunggu hasilnya," kata seorang profesor hukum bisnis internasional dan Eropa dari Hull University Business School, Christopher Bovis.

Bila hasil referendum memutuskan kemerdekaan Skotlandia, jelasnya, maka bisa jadi ada pengurangan atau penarikan investasi Tiongkok. Pasalnya Skotlandia yang baru merdeka akan memiliki hukum dan peraturan baru baik dalam ekonomi atau perpajakan. Selain itu juga akan ada penyesuaian mata uang baru, dan keonggotaan di Uni Eropa yang belum pasti. Semua hal itu mempengaruhi keputusan bisnis.

"Sangat mungkin bisnis Tiongkok akan dipertimbangkan kembali soal investasi di Skotlandia hingga ada kepastian yang bisa mereka dapatkan," tandasnya. [mel]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi Malaysia Tumbuh 4,9 Persen di 2025

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:16

Kuota Pembelian Beras SPHP Naik Jadi 25 Kg Per Orang Mulai Februari 2026

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:02

Analis: Sentimen AI dan Geopolitik Jadi Penggerak Pasar Saham

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:46

Hasto Bersyukur Dapat Amnesti, Ucapkan Terima Kasih ke Megawati-Prabowo

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:26

Bripda Rio, Brimob Polda Aceh yang Disersi Pilih Gabung Tentara Rusia

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jalan Menuju Pengentasan Kemiskinan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:16

Legislator Golkar: Isra Miraj Harus Jadi Momentum Refleksi Moral Politisi

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:14

Skandal DSI Terbongkar, Ribuan Lender Tergiur Imbal Hasil Tinggi dan Label Syariah

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:46

Harga Minyak Menguat Jelang Libur Akhir Pekan AS

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:35

Guru Dikeroyok, Komisi X DPR: Ada Krisis Adab dalam Dunia Pendidikan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:24

Selengkapnya