Berita

ilustrasi/net

Politik

Pilkada Langsung Bisa Rusuh Hanya Karena Ada yang Menggerakkan

RABU, 17 SEPTEMBER 2014 | 01:42 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Sejatinya, kedaulatan memilih pemimpin berada langsung di tangan rakyat.  Jika RUU Pilkada tetap disahkan dengan salah satu hasilnya adalah mekanisme Pilkada dikembalikan ke DPRD, maka memang benar bahwa di Indonesia tengah berlangsung perampokan dan pengkhianatan terhadap kedaulatan rakyat oleh "Tirani Mayoritas".

"DPRD itu tugas utamanya ada pada fungsi legislasi, anggaran dan pengawasan. Rakyat  memberi mandat kepada mereka bukan untuk memilih kepala daerah," terang Ketua Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Sumatera Barat, Samaratul Fuad, dalam surat elektronik.

Dia mengatakan, adalah tidak benar bila rakyat disebut tidak siap dengan politik atau tidak dewasa berpolitik atau sering membuat kerusuhan ketika Pilkada langsung hanya karena calonnya kalah.


"Apakah benar seperti itu kalau tidak ada mesin politik yang menggerakkannya? Siapa mesin politik itu? Adalah mereka para politisi yang sesungguhnya tidak siap kalah," terangnya.

Soal dalih biaya politik yang besar dalam Pilkada langsung sehingga sebaiknya Pilkada langsung dihapus saja, menurut dia, sesungguhnya biaya politik tersebut lebih dikarenakan politisi tidak populer di tengah masyarakat. Padahal, untuk  menjadi calon kepala daerah, antara lain harus mempunyai popularitas dan elektabilitas.

"Ke mana mereka selama ini? Kenapa tidak menetap di daerah kalau memang ingin dipilih oleh rakyat? Atau setidak-tidaknya frekuensi dan kualitas komunikasi dengan rakyat harus banyak secara informal," ucapnya.

"Kemudian partai yang mengusung calon, apa yang dilakukan partai selama ini? Bukankah sudah menjadi fakta pada pileg yang lalu parpol kesulitan untuk mencari caleg yang berkualitas," urai anggota Perhimpunan Bantuan Hukum Indonesia di Sumbar itu. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

TNI Siap Turunkan Penerjun Khusus Padamkan Api Karhutla

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:50

KDKMP Upaya Merebut Kedaulatan Rakyat Atas Pasar

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:34

Pemerintah Kembali Kirim Bantuan ke NTT dan Kalimantan, dari Logistik hingga 500 Mesin Pompa Air

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:30

Sri Purwanti Bangun Bisnis Kuliner Halal Citarasa Nusantara di Taiwan

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:26

Rupiah Melemah, Sanksi Baru AS ke Iran jadi Biang Kerok

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:13

Prabowo Dorong Uji Coba Ubi Bombing untuk Atasi Karhutla

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:43

El Nino Sangat Kuat, Jangan Bakar Lahan untuk Land Clearing

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:42

Rumor 62,2 Persen Saham BYAN Warning bagi Pasar Modal

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:40

Pencemaran Berulang, DPR Desak Sumber Limbah Pencemar Kali Bekasi Diusut

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:40

Bioskop Jaksinema Hadir di Pasar Rumput, Tiket Cuma Rp15 Ribu

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:28

Selengkapnya