. Ternyata, dalam tiga hari ini, kehadiran TNI AD dan peneliti yang sudah mendekati target utama di situs Gunung Padang diganggu oleh beberapa arkeolog dan geolog senior dengan membuat fitnah di media, sosial media dan rapat-rapat.
Misalnya diisukan riset ini dibantu dana dari Kementerian Pendidikan danKebudayaan sebesar Rp 23 miliar, sementara TNI diisukan merusak situs, dan mengisukan ada bencana arkeologi.
Terkait dengan gangguan ini, beberapa saat lalu digelar pertemuan antara Direktur Cagar Budaya Hary Widianto, Danny Hilman Natawidjaja, Ali Akbar, serta Dandim Cianjur Lektol Andi. Disimpulkan dalam pertemuan ini bahwa pihak-pihak yang menghambat riset ini telah melakukan propaganda hitam dan mkebohongan intelektual.
Dalam pertemuan ini juga, Hary Widianto melihat sendiri hasilnya di lokasi situs dan dia memuji metode trenching Danny Hilman Natawidjaja yang dibanttu TNI. Dan metode ini bisa menjadi metode arkeologi ke depan yang sistematis dan terukur berdasarkan pemindaian, dan memang tidak ada satu bukti pun merusak situs.
Perkembangan ini disampaikan inisiator Tim Terpadu Riset Mandiri Gunung Padang yang juga Staf Khusus Presiden, Andi Arief. Andi Arief pun berharap semua yang telah membuat ulah, fitnah dan menggagalkan riset ini untuk mengubah prilaku dan tindakan yang bertentangan dengan sikap intelektual. Apalagi bagaimanapun riset ini akan tetap berjalan dan dituntaskan. Ini sekaligus mempertegas ketulusan TNI dalam membantu riset dan menjaga situs itu.
"TNI bukanlah seperti 200 orang pasukan Raffles yang merusak Borobudur, atau seperti pasukan Napoleon yang mengobrak abrik Pyramida Giza. Terus terang para peneliti sudah melapor ke Presiden SBY bahwa memang hasil riset Gunung Padang bukan hanya mengubah sejarah tetapi juga berpotensi membawa kemakmuran bangsa ini seperti diamanatkan pasal 33 UUD 1945," kata Andi Arief beberapa saat lalu (Selasa, 16/9).
Andi juga berharap TNI bisa terus bekerja sama dan menjaga mati-matian Piramida Gunung Padang.
"Saya pernah ditawari 5 juta dolar AS agar pihak asing bisa terlibat dalam riset ini. Saya dengan tegas menolak. Saya mendapat informasi lewat pihak yang kontra mereka tetap berupaya merebut wilayah dan objek riset. Jangan ada lagi pasukan Raffles atau Napoleon yang menguasai, merusak dan mengambil semua yang berharga," demikian Andi Arief.
[ysa]