Berita

musthofa/net

Politik

Proyeksi Kabinet Mengerucut, Bupati Kudus Terekam Radar

SELASA, 16 SEPTEMBER 2014 | 04:27 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Joko Widodo sudah menyampaikan bahwa kabinet yang akan dipimpinnya mulai Oktober mendatang diisi 34 Kementerian. Namun, soal siapa saja yang akan mengisi kursi kabinet itu masih tebak-tebakan.

Mantan Walikota Solo itu menyebut sebanyak 16 kursi kabinet berasal dari Partai Politik sebagai jembatan antara pemerintah dengan kekuatan legislatif di DPR. Artinya, sebanyak 18 kursi berasal dari luar partai politik.
 
Sejak awal pembentukan Rumah Transisi Jokowi-JK, yang mendesain produk kebijakan dan postur kabinet Jokowi-JK mendatang, sudah banyak figur yang dimunculkan publik untuk calon-calon menteri. Sejumlah nama kepala daerah yang berprestasi pun tidak luput dari radar Jokowi untuk dipertimbangkan sebagai calon menterinya.
 

 
Memang, masih sedikit kepala daerah, baik Gubernur dan Bupati atau Walikota yang dianggap sukses memimpin daerahnya dan memiliki prestasi, diunggulkan untuk masuk dalam jajaran kabinet. Untuk level Bupati, salah seorang yang dijagokan masuk sebagai calon menteri di kabinetnya Jokowi-JK adalah Bupati Kudus, Musthofa.
 
"Sebagai warga negara, jika memang diberikan tanggung jawab sebagai menteri, saya menganggapnya sebuah tugas yang harus diemban, sekaligus sebagai tantangan yang tidak mudah," ujar Bupati Musthofa usai menjadi narasumber dalam program live "Economic Challenge" di salah satu stasiun televisi swasta, Senin (15/9).
 
Selama ini, sejumlah pakar dan politisi nasional menyebut nama Bupati Kudus Musthofa layak sebagai salah satu anggota kabinet Jokowi-JK menduduki pos Kementerian Koperasi dan UKM. Bagi Musthofa, tugas dan tanggung jawab seperti itu bukanlah diminta-minta. Tetapi, jika Presiden terpilih Jokowi-JK meminta dan menunjuknya untuk memimpin kementerian itu, Musthofa tidak gentar.
 
"Saya hanya bisa katakan, apa yang saya kerjakan selama memimpin Kudus, jika itu memang dianggap sebagai sebuah prestasi biarlah itu dinilai oleh masyarakat," ujar pria yang banyak mengembangkan perekonomian kreatif di Kudus itu.
 
Musthofa terpilih untuk kedua kalinya memimpin kabupaten Kudus. Kegandrungannya membangun koperasi bagi para pedagang kaki lima dan membangun perekonomian kreatif di wilayahnya, membuat ia disebut-sebut bakal jadi menteri untuk bidang Koperasi dan UKM.

Kabupaten yang memiliki APBD kecil itu tidak menjadi halangan bagi Musthofa mengembangkan ekonomi kreatif. Meski masih empat tahun lagi Musthofa memimpin Kudus, dirinya yakin sudah membangun sistem pemerintahan Kudus yang professional. Sehingga, apapun yang dikerjakan pastinya bisa bergerak secara sistematis.

Ditanya mengenai sektor Koperasi dan UKM, pria yang rajin senyum ini menyampaikan bahwa dia hanya melakukan tugas-tugasnya sebagai Bupati di Kudus yang memang banyak bersentuhan dengan para pengrajin, petani, nelayan dan para pedagang kaki lima.
 
"Saya kira, ya dengan memberdayakan perekonomian rakyat, ya ekonomi kerakyatan, itu bisa dilaksanakan," ujar Musthofa.
 
Pria yang juga rajin "blusukan" ini menyampaikan, bahwa apapun usah dan kreativitas masyarakat yang berusaha sendiri adalah potensi yang sangat besar untuk mengembangkan dan menopang perekonomian Indonesia ke depan.
 
Di Kudus saja, lanjut pria yang melaksanakan program Gebyar Pedagang Kakilima (PKL) itu, dirinya menata ribuan PKL. Hingga tahun ini, tercatat lebih dari 2500-an PKL di Kudus yang sudah mendapat tempat yang layak dan juga bantuan fasilitas serta pengembangan usaha yang dilakukan. Sebagai Bupati, Musthofa menetapkan tanggal 5 Januari sebagai Hari Gebyar PKL di Kudus.
 
Pengamat politik Universitas Al-Azhar Indonesia (UAI), Damayanti W, menuturkan, latar belakang menteri memang menjadi ukuran keberhasilan kerja kabinet. Karena itu, Jokowi dianggap perlu menggandeng kepala daerah berprestasi sebagai calon menteri.
 
"Kepala daerah yang berprestasi telah memiliki bekal dan syarat layak untuk menjadi menteri," kata Damayanti. [ald]

Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya