Berita

tony abbott/net

Dunia

Australia: Ancaman Terorisme Capai Level High

JUMAT, 12 SEPTEMBER 2014 | 16:19 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Australia meningkatkan level peringatan teror mencapai level "high" untuk pertama kalinya sejak sistem peringatan nasional diperkenalkan di negeri kanguru tahun 2003 lalu.

Perdana Menteri Australia Tony Abbott menjelaskan, menurut sistem tersebut, level "high" berarti ada ancaman dan potensi serangan terorisme di Australia.  

"Ini tidak berarti serangan teror sudah dekat, kita tidak memiliki intelijen khusus dari plot tertentu. Apa yang kita miliki adalah informasi intelijen bahwa ada orang-orang dengan maksud dan kemampuan tertentu untuk melakukan serangan," kata Abbott dalam konferensi pers yang digelar di Canberra (Jumat, 12/9).


Perlu diketahui, Australia meluncurkan sistem peringatan nasional itu sejak tahun 2003 dengan empat level ancaman yakni low, medium, high, dan extreme. Sejak sistem itu diluncurkan, level ancaman hanya berada pada titik "medium" dan baru kali ini berada pada level "high".

Namun Abbott menjelaskan, peringatan itu tidak akan membuat kehidupan sehari-hari warga negaranya berubah.

"Apa yang lebih mungkin diperhatikan masyarakat adalah kemanan lebih di bandara, keamanan di pelabuhan, keamanan lebih di pangkalan militer, keamanan lebih di gedung-gedung pemerintah dan keamanan lebih di acara-acara publik yang besar," katanya dikutip CNN.

Keputusan untuk menaikkan level peringatan nasional itu sejalan dengan apa yang sebelumnya diperkirakan oleh direktur jenderal Organisasi Intelijen Keamanan Australia (ASIO) David Irvine awal pekan ini.

Ia menyebut, tingkat keamanan semakin tinggi menyusul banyaknya warga negara Australia yang ikut bergabung dengan kelompok ekstrimis ISIS di Timur Tengah.

"Mereka menjadi perhatian karena jika mereka pulang, mereka membawa hasil pelatihan yang berpotensi (ancaman)," jelasnya.

Pemerintah Australia sejauh ini mencatat setidaknya ada 60 warga negaranya yang bergabung dengan ISIS serta ada sekitar 100 fasilitator ISIS yang masih berada di Australia. [mel]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi Malaysia Tumbuh 4,9 Persen di 2025

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:16

Kuota Pembelian Beras SPHP Naik Jadi 25 Kg Per Orang Mulai Februari 2026

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:02

Analis: Sentimen AI dan Geopolitik Jadi Penggerak Pasar Saham

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:46

Hasto Bersyukur Dapat Amnesti, Ucapkan Terima Kasih ke Megawati-Prabowo

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:26

Bripda Rio, Brimob Polda Aceh yang Disersi Pilih Gabung Tentara Rusia

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jalan Menuju Pengentasan Kemiskinan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:16

Legislator Golkar: Isra Miraj Harus Jadi Momentum Refleksi Moral Politisi

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:14

Skandal DSI Terbongkar, Ribuan Lender Tergiur Imbal Hasil Tinggi dan Label Syariah

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:46

Harga Minyak Menguat Jelang Libur Akhir Pekan AS

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:35

Guru Dikeroyok, Komisi X DPR: Ada Krisis Adab dalam Dunia Pendidikan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:24

Selengkapnya