Berita

james foley (berbaju orange)/net

Dunia

Ibunda: James Foley Sedih Tak Tertangani Pemerintah AS

JUMAT, 12 SEPTEMBER 2014 | 11:31 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Ibunda dari jurnalis yang manjadi korban eksekusi kelompok militan ISIS James Foley, Diane Foley angkat bicara soal kematian anaknya. Ia mengaku malu dan terkejut dengan cara yang dilakukan oleh pemerintah Amerika Serikat dalam menangani kasus anaknya.

"Saya pikir upaya kita untuk membebaskan Jim telah mengganggu (pemerintah AS)," kata Diane pada CNN (Kamis, 11/9).

Ia menilai, upaya pembebasan anaknya sebelum dieksekusi tidak menjadi bagian dari kepentingan strategis Amerika Serikat.


"Jim tewas dengan cara yang mengerikan. Ia dibunuh dengan cara yang paling mengerikan. Ia dikorbankan hanya karena kurangnya koordinasi, kurangnya komunikasi,dan kurangnya prioritas," sambung Diane.

Diane menambahkan, keluarganya telah diberitahu beberapa kali oleh pemerintah Amerika Serikat untuk tidak memberikan tebusan bagi James Foley. Kata Diane, pihaknya diberitahu bahwa hal itu adalah ilegal dan bisa saja dijerat hukuman.

"Kami hanya diberitahu untuk percaya bahwa ia akan dibebaskan entah bagaimana, dengan keajaiban," kata Diane.

Namun alih-alih bebas, James Foley justru muncul dalam sebuah video eksekusi yang dirilis 19 Agustus lalu oleh kelompok militan ISIS. Dalam video berisi ancaman bagi Amerika Serikat itu, ditampilkan bagaimana James Foley dieksekusi secara sadis.

Diane menyebut, anaknya mungkin akan sedih dengan upaya pemerintah Amerika Serikat setelah bertahun-tahun masa penculikannya.

"Jim percaya, sampai akhir, bahwa negaranya akan datang untuk membantu," kata Diane.

Sementara itu Penasihat Keamanan Nasional Amerika Serikat Susan Rice menyebut, pihaknya dan pemerintah Amerika Serikat mengerahkan ratusan personil untuk melakukan operasi penyelamatan demi membebaskan James Foley dan tawanan lainnya setelah mengumpulkan informasi intelijen soal lokasi penyanderaan.

Namun Diane menyebut, upaya tersebut telah terlambat dan nyawa anaknya tidak akan dapat kembali.

"Saya berdoa agar pemerintah kita mau belajar dari kesalahan yang telah dibuat dan mengakui bahwa ada cara yang lebih baik untuk memperlakukan warganya," tandas Diane. [mel]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi Malaysia Tumbuh 4,9 Persen di 2025

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:16

Kuota Pembelian Beras SPHP Naik Jadi 25 Kg Per Orang Mulai Februari 2026

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:02

Analis: Sentimen AI dan Geopolitik Jadi Penggerak Pasar Saham

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:46

Hasto Bersyukur Dapat Amnesti, Ucapkan Terima Kasih ke Megawati-Prabowo

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:26

Bripda Rio, Brimob Polda Aceh yang Disersi Pilih Gabung Tentara Rusia

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jalan Menuju Pengentasan Kemiskinan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:16

Legislator Golkar: Isra Miraj Harus Jadi Momentum Refleksi Moral Politisi

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:14

Skandal DSI Terbongkar, Ribuan Lender Tergiur Imbal Hasil Tinggi dan Label Syariah

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:46

Harga Minyak Menguat Jelang Libur Akhir Pekan AS

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:35

Guru Dikeroyok, Komisi X DPR: Ada Krisis Adab dalam Dunia Pendidikan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:24

Selengkapnya