Berita

sya'roni/rmol

Politik

Golput Meroket Bukti Pilkada Langsung Sudah Tidak Layak

JUMAT, 12 SEPTEMBER 2014 | 01:29 WIB | OLEH: SYA'RONI

GEGAP gempita Pilkada langsung makin kehilangan marwah dan esensinya di mata rakyat. Dari tahun ke tahun penyelenggaraan Pilkada, angka golput terus meroket. Rata-rata 30 persen di setiap Pilkada. Bahkan di beberapa daerah, golput keluar sebagai pemenang.

Pilkada Jawa Tengah tahun lalu misalnya. Golput keluar sebagai pemenang dengan total 46% suara dari jumlah DPT, mengalahkan gubernur terpilih Ganjar Pranowo yang hanya memperoleh 27% suara dukungan.

Demikian juga di Pilkada Jawa Timur. Golput menang dengan 40% suara, sementara gubernur terpilih Soekarwo hanya mendapatkan 27% suara.


Fenomena hampir sama terjadi di Pilkada Jawa Barat. Golput menang 37% suara, sementara gubernur terpilih Ahmad Heryawan hanya mampu mengumpulkan 20% suara.

Di Pilkada DKI Jakarta 2012, pada putaran pertama golput juga berhasil membantai gubernur terpilih Jokowi 36,7% lawan 26,5%. Pada putaran kedua, Jokowi berhasil unggul tipis dengan memperoleh 35,3 suara, sementara golput sebesar 33,5% suara.

Kemenangan golput di hampir semua Pilkada membuktikkan rakyat sudah jemu dan kecewa dengan proses pemilihan langsung. Kejemuan sangat beralasan, karena jika dihitung dalam 5 tahun, setidaknya rakyat diundang ke TPS paling sedikit empat kali. Yaitu pada Pemilu DPR/DPD/DPRD, Pilpres, Pilkada Propinsi, Pilkada Kabupaten/Kotamadya. Kedatangan ke TPS akan bertambah jika terjadi pemilihan putaran dua. Bahkan, untuk rakyat di desa ditambah dengan pemilihan kepala desa.

Kepercayaan rakyat yang dengan sukarela berbondong-bondong ke TPS, ternyata dibalas dengan kenyataan pahit bahwa para pemimpin yang dipilih lewat pilkada langsung, banyak yang terjerat korupsi. Kasus teraktual menimpa gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah yang divonis empat tahun penjara.

Fakta bahwa banyak kepala daerah yang terjerat korupsi merupakan pukulan telak bagi rakyat dan demokrasi. Terbukti, pemimpin hasil pemilihan langsung tidak serta-merta memikirkan rakyat. Banyak kepala daerah yang terjerat utang politik, dan harus membayarnya dengan memberikan konsesi izin tambang, hutan, mall, dan bentuk konsesi lainnya.

Kekecewaan rakyat semakin beralasan karena untuk terselenggaranya pilkada langsung dibutuhkan dana yang sangat besar. Sebagai contoh, pilkada DKI Jakarta tahun 2012 menghabiskan dana Rp 258 miliar, pilkada Jawa Barat 2013 menelan biaya Rp 1,07 triliun, pilkada Jawa Tengah Rp. 907 milyar dan Pilkada Jawa Timur Rp 943 miliar. Namun, besarnya biaya yang dikeluarkan tak sebanding dengan yang dihasilkannya.

Rakyat yang sudah jemu dan kecewa dengan proses pilkada langsung, janganlah terus-menerus dijadikan tameng oleh para pemburu jabatan untuk menutupi libido yang haus akan kekuasaan. Tanpa Pilkada langsung, siapa pun tetap berpeluang menjadi pemimpin. Tidak hanya elit saja yang bisa menguasai kursi kepemimpinan. Soekarno dan Soeharto adalah dua sosok anak kampung yang bisa menjadi pemimpin besar tanpa adanya pemilihan langsung.[***]

Penulis adalah Sekretaris Jenderal Himpunan Masyarakat Untuk Kemanusiaan dan Keadilan (Humanika)

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Gugatan Denny Indrayana Sia-sia, cuma Bikin Gaduh

Sabtu, 26 September 2026 | 02:36

UPDATE

Masuk Tahap Pembuktian, Denny Indrayana Minta MK Panggil Gibran

Senin, 28 September 2026 | 18:16

Bukan Sekadar Parlemen, MPR Penjaga Konstitusi dan Kebangsaan

Senin, 28 September 2026 | 18:09

Dari 49 Tahun, Antrean Faktual Haji Kini Jadi 14 Tahun

Senin, 28 September 2026 | 17:44

Prabowo Perintahkan Audit Forensik Tata Kelola Keuangan Haji

Senin, 28 September 2026 | 17:38

Warga Ngadu ke DPR Gegara Kasus Dugaan Mafia Tanah Disetop

Senin, 28 September 2026 | 17:33

Mengenal Megathrust, 14 Segmen Sumber Gempa di Indonesia dan Potensi Magnitudonya

Senin, 28 September 2026 | 17:25

Dirjenpas Janji Bongkar 13 Bangunan Lapas Cibinong

Senin, 28 September 2026 | 17:16

Apa Itu Fenomena Blue Fire di Gunung Papandayan? Ini Penjelasan Ahli

Senin, 28 September 2026 | 17:08

Kesaktian Silfester Mulai Berkurang

Senin, 28 September 2026 | 17:05

Harga BBM Pertamina 28 September 2026, Pertalite hingga Pertamax Masih Segini

Senin, 28 September 2026 | 16:59

Selengkapnya