Berita

Politik

Pilkada Langsung Dihapus Karena Korupsi Anggaran Makin Sedikit?

RABU, 10 SEPTEMBER 2014 | 03:39 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

. Mengembalikan pemilihan kepala daerah melalui mekanisme parlemen merupakan kemunduran demokrasi. Dalam konteks saat ini, penghapusan pilkada langsung merupakan pengingkaran terhadap kehendak rakyat sekaligus pembunuhan demokrasi langsung oleh rakyat.

"Penghapusan pilkada langsung merupakan upaya elit parpol untuk menguasai kepala daerah. Sebab nanti kepala daerah akan didominasi oleh elit parpol," ujar Koordinator Komite Pemilih Indonesia, Jeirry Sumampow, dalam pesan elektroniknya yang diterima redaksi (Rabu, 10/9).

Mekanisme pemilihan kepala daerah oleh DPRD, katanya, menutup peluang orang-orang baik yang disukai rakyat menjadi pemimpin mereka. Sebab semuanya akan ditentukan oleh segelintir orang partai yang ada di DPRD.


Selain itu, katanya, mekanisme pemilihan oleh DPRD akan menjadikan uang sebagai faktor dominan bagi keterpilihan seseorang. Sebab besar kemungkinan siapa yang akan terpilih akan sangat ditentukan oleh seberapa besar bayaran yang bisa dia berikan kepada para anggota DPRD yang ada.

"Praktek seperti ini sudah jamak terjadi sejak dahulu, ketika kepala daerah masih dipilih oleh DPRD. Karena itu, maka kalau pilkada langsung dihapus, maka korupsi akan makin marak lagi di daerah," paparnya.

Menurut dia, efisiensi tidak bisa dijadikan alasan Pilkada langsung dihilangkan. Karena justru pemilihan di DPRD akan membuat pemerintah makin tak efisien. Persoalan efisien berkaitan dengan kinerja pemerintah, dan karenanya Jerry sangsi kepala daerah yang dipilih oleh DPRD akan bekerja lebih efisien untuk kepentingan rakyat.

"Sebab dia tak memiliki keterikatan langsung dengan rakyat. Tanggungjawabnya terhadap rakyat pun akan sangat minim dan rendah," paparnya.

Alasan pilkada langsung boros, menurut dia, juga tidak beralasan. Sebab selama ini kita mampu membiayainya.

"Bagi saya lebih baik anggaran itu digunakan untuk memfasilitasi rakyat memilih pemimpin yang baik bagi mereka, daripada dikorupsi oleh para pejabat. Saya pikir jangan-jangan banyak pejabat dan elit parpol yang ingin pilkada langsung dihapus karena anggaran negara yang bisa dikorupsi makin sedikit," demikian Jeirry.[dem]

Populer

Kolaborasi dengan Turki

Minggu, 11 Januari 2026 | 04:59

KPK Panggil Sekretaris Camat hingga Direktur Perusahaan dalam Kasus OTT Bupati Bekasi

Rabu, 14 Januari 2026 | 12:09

Ijazah Asli Kehutanan UGM

Rabu, 14 Januari 2026 | 05:09

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Lampaui Ekspektasi, Ekonomi Malaysia Tumbuh 4,9 Persen di 2025

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:16

Kuota Pembelian Beras SPHP Naik Jadi 25 Kg Per Orang Mulai Februari 2026

Sabtu, 17 Januari 2026 | 14:02

Analis: Sentimen AI dan Geopolitik Jadi Penggerak Pasar Saham

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:46

Hasto Bersyukur Dapat Amnesti, Ucapkan Terima Kasih ke Megawati-Prabowo

Sabtu, 17 Januari 2026 | 13:26

Bripda Rio, Brimob Polda Aceh yang Disersi Pilih Gabung Tentara Rusia

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:42

Sekolah Rakyat Jalan Menuju Pengentasan Kemiskinan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:16

Legislator Golkar: Isra Miraj Harus Jadi Momentum Refleksi Moral Politisi

Sabtu, 17 Januari 2026 | 12:14

Skandal DSI Terbongkar, Ribuan Lender Tergiur Imbal Hasil Tinggi dan Label Syariah

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:46

Harga Minyak Menguat Jelang Libur Akhir Pekan AS

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:35

Guru Dikeroyok, Komisi X DPR: Ada Krisis Adab dalam Dunia Pendidikan

Sabtu, 17 Januari 2026 | 11:24

Selengkapnya