Berita

jokowi/net

Politik

Perampingan Kabinet, Cara Cerdas Atasi 'Keguncangan' APBN

SELASA, 09 SEPTEMBER 2014 | 18:13 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Banyak cara yang bisa dilakukan Presiden terpilih Joko Widodo guna menghindari guncangan keuangan negara akibat besarnya alokasi APBN untuk subsisi BBM. Salah satu cara cerdas untuk penghematan APBN adalah melakukan perampingan terhadap Kementerian, Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) dan lembaga pemerintah lainnya.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Jokowi Watch, Tigor Doris S, saat berbincang dengan redaksi (Selasa, 9/9). Menurut dia, walau banyak analisa yang menyatakan subsidi BBM jadi penyebab dominan APBN 'ketar-ketir', namun bukan berarti yang pertama kali dilakukan Jokowi sebagai presiden adalah dengan menaikkan harga BBM.

"Alokasi subsidi sudah diplot sampai akhir Desember 2014. Tapi tak usah risau, masih ada cara penghematan lain yang lebih bisa 'dimaklumi' rakyat," paparnya.


Indonesia adalah negara kesejahteraan. Dimana subsidi merupakan salah satu bentuk karakteristik pelayanan publik. Subsidi sudah mendarah-daging maka sebelum melakukan penghapusan subsidi, Jokowi harus terlebih dahulu memangkas gundul 'subsidi kabinet dan LPNK' yang dipimpinnya nanti. Apalagi Jokowi berjanji saat kampanye lalu akan menerapkan efisiensi terhadap instrumen pemerintahan, baru kepada rakyat.

"Langkah awal yang pas dan ideal adalah dengan perampingan dan memaksimalkan sinergi Kementerian/LPNK," paparnya.

Tigor menambahkan, UUD 1945 hanya mengenal Menteri sebagai pembantu Presiden. Oleh karenanya Jokowi harus fokus memaksimalkan kinerja para pembantunya, bukan malah menunjuk banyak pembantu, apalagi sampai meniru Presiden sebelumnya yang sampai-sampai membentuk Menteri koordinator serta 'membagi-bagi posisi' di bawahnya kepada orang-orang di sekitarnya.

Model kabinet yang ada saat ini kata Tigor, sangat boros anggran. Kementerian yang wajib dibentuk dalam UU hanya Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Keuangan, Kementerian Pertahanan dan Kementerian Agama sehingga bisa berada disemua level pemerintahan provinsi, kabupaten/kota. Namun nyatanya saat ini malah para pembantunya pembantu presiden yakni LPNK seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Badan Narkotika Nasional (BNN) dengan mudah tumbuh bagai jamur sampai di provinsi, kabupaten dan kota.

"Ini pemborosan yang menurut kami sesungguhnya diduga disengaja secara sistematis," demikian Tigor Doris menjelaskan.[dem]


Populer

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Nama Raffi Ahmad Muncul di Sidang Blueray Cargo, Pengacara Minta Pemeriksaan Menyeluruh

Minggu, 07 Juni 2026 | 21:11

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Langsung Terbang ke Jakarta, Maukah Chatib Basri Ganti Purbaya?

Jumat, 05 Juni 2026 | 06:58

Ironis! Terima Penghargaan Negara tapi Terjerat Korupsi

Jumat, 05 Juni 2026 | 01:00

OTT Lanjutan KPK Tangkap 5 Pegawai BPK

Rabu, 10 Juni 2026 | 17:09

UPDATE

KPU akan Berulang Tahun ke-73 di November Tahun Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 12:22

Nasib Atlet Setelah Lampu Stadion Padam

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Trump: Perjanjian Damai dengan Iran akan Diteken Hari Ini

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:33

Pemuda 24 Tahun Jadi Tersangka Usai Bawa Botol Diduga Bom Molotov ke Aksi DPR

Minggu, 14 Juni 2026 | 11:25

Ekonom Ungkap Akar Munculnya Narasi "Sell Indonesia"

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:41

KPK Bongkar Korupsi "Sempurna" di Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:39

Panggung Atraksi Wushu di Sekolah Rakyat Manado Pukau Mensos

Minggu, 14 Juni 2026 | 10:01

Daya Beli Masyarakat Terancam Jika BBM Subsidi Ikut Naik

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:51

KPK Amankan Dokumen saat Geledah Kantor Hingga Rumah Dinas Bupati Muara Enim

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:44

Menhan Jepang Persembahkan Model Kapal Perang "Makasa" ke Prabowo di Kertanegara

Minggu, 14 Juni 2026 | 09:31

Selengkapnya