Berita

ilustrasi/net

Memilih Lewat Perwakilan Sudah Jadi Tradisi yang Hidup dalam Masyarakat

SELASA, 09 SEPTEMBER 2014 | 08:41 WIB | OLEH: HARIS RUSLY MOTI

APAKAH kita berani mengatakan bahwa NU, Muhammadiyah, PGI, HMI, PMKRI, PMII, GMNI, PDI Perjuangan, Partai Golkar, NASDEM, AJI Indonesia, WALHI, KAMMI, KNPI, REPDEM, HIPMI, PEPABRI, dan lain-lain adalah barisan organisasi yangg menerapkan sistem yangg tak demokratis dan fasis, karena memilih pemimpinnya menggunakan mekanisme demokrasi perwakilan?

Kita tak usah bicara soal demokrasi berbusa-busa dengan mengacu pada tradisi yangg pernah berkembang pada bangsa lain, di Athena misalnya.

Semestinya tata cara berdemokrasi itu berdiri di atas tradisi setiap bangsa dalam pengambilan keputusan untuk kemaslahatan bersama. Tak tepat bila dilakukan Amerikaisasi dalam cara-cara kita berdemokrasi.


Bila diperhatikan, maka praktek dan tradisi demokrasi perwakilan, musyawarah dan mufakat, telah berlangsung cukup lama di dalam masyarakat kita, terutama dalam memilih pemimpin dan menetapkan keputusan yg dilakukan di setiap organisasi.

Setiap periode kepemimpinan Ormas dan Parpol, baik itu dua tahunan maupun lima tahunan, baik itu Ormas Agama, Ormas Pemuda-Mahasiswa, Parpol maupun LSM, menggelar pertemuan tingkat nasional, yangg disebut Konggres atau Munas, untuk memilih pemimpin dan mengambil keputusan tertinggi.

Di dalam acara Kongres atau Munas tersebut, tak seluruh anggota Ormas atau Parpol dapat menjadi peserta yangg dilibatkan dalam memilih pemimpin.

Seluruh Parpol dan Ormas menerapkan mekanisme perwakilan atau utusan setiap cabang untuk menjadi peserta Kongres atau Muktamar, yang mempunyai hak untuk memilih pemimpin.

Jadi, tak ada masalah dengan praktik demokrasi perwakilan yangg akan diterapkan dalam memilih Kepala Daerah. Justru jika sistem Pilkada langsung dilanjutkan penerapannya, maka kontraksi sosial akan makin parah, lantaran terjadi benturan antara tradisi yg hidup di dalam masyarakat dengan sistem negara yang menganut demokrasi ultra-liberal. [***]

Penulis adalah Koordinator Petisi 28

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

KPK Dalami Dugaan Aliran Rp3,5 Miliar ke Eks Ketum HIPMI

Minggu, 27 September 2026 | 11:44

UPDATE

Jawab Tantangan Digital, Bawaslu Jadikan Kampus Laboratorium Demokrasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:54

DPD Ungkap Pola Investor ‘Berjudi’ Properti di Bali, Beli Aset Lalu Jual Lagi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 05:24

Denny Indrayana Cs Debat Sengit dengan KPU soal Verifikasi Data Calon

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:50

Nakhoda KM Virgo Transport 8 Langsung Ditahan Penyidik

Kamis, 01 Oktober 2026 | 04:20

Digagas di Era Purbaya, Wacana Insentif Motor Listrik Masih Belum Jelas

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:59

Saksi Denny Indrayana Ungkap Tak Ada Bahasa Verifikasi Faktual Dokumen Capres-cawapres

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:34

Sjafrie Sematkan Tanda Kehormatan ke Tentara Jepang yang Bantu Atasi Karhutla

Kamis, 01 Oktober 2026 | 03:09

Kader PDIP Berpotensi Jabat Wapres Jika Gibran Didiskualifikasi

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:55

TNI Hormati Kejagung Imbas Penetapan Kolonel Budi Tersangka Korupsi MBG

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:42

Kemenperin Dukung Impor KRL Bekas dari Jepang, Ini Alasannya

Kamis, 01 Oktober 2026 | 02:18

Selengkapnya