Berita

maruarar-jokowi/net

Saatnya Politisi Senayan Jadi Negarawan dan Beri Kesempatan Jokowi-JK untuk Bekerja

KAMIS, 04 SEPTEMBER 2014 | 10:08 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Pembentukkan panitia khusus (Pansus) Pilpres 2014 oleh DPR dapat memicu kegaduhan politik. Dan tentu saja kegaduhan politik di tingkat elit yang terus menerus berlangsung ini justru kontraproduktif bagi kepentingan dan kesejahteraan rakyat yang menjadi cita-cita bersama.

Demikian disampaikan Ketua DPP PDI Perjuangan, Maruarar Sirait. Maruarar pun menegaskan, persoalan dan kompetisi Pilpres ini seharusnya sudah selesai dengan keputusan Mahkamah Konstitusi (MK). Lebih-lebih, Dewan Kehormatan Penyelenggaran Pemilu (DKPP) juga sudah menggelar sidang etik bagi KPU. Dan faktanya, di MK juga terbukti sudah tidak ada kecurangan terstruktur, sistemastis dan massif.

Dalam hal ini, Maruarar memberi contoh nyata dari sikap negarawan Megawati Soekarnoputri. Dalam Pilpres 2009, pasangan Megawati-Prabowo, yang diantaranya bersaing dengan SBY-Boediono, juga menilai ada kecurangan dalam Pilpres. Namun begitu MK memutuskan, kubu Megawati menerimanya dengan lapang dada sebagai cermin dari sikap kenegarawanan.


"Alangkah baiknya politisi menjadi negarawan. Politisi di DPR juga harus bersikap negarawan. Kita beri kesempatan untuk Jokowi-JK bekerja untuk rakyat. Bila pun nanti ada kebijakan yang dinilai kurang, tentu bisa memberi masukan dan saran," kata Maruarar Sirait kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 4/9).

Dengan memberikan kesempatan kepada Jokowi-JK untuk bekerja hingga lima tahun ke depan, lanjut Ara, maka ini juga akan menjamin stabilitas negara. Stabilitas ini penting sehingga program-program kerakyatan Jokowi bisa segera diimplementasikan, dan bisa meningkatkan kehidupan rakyat yang lebih baik.

"Politik ada waktunya. Waktunya berkompetisi sudah selesai. Sekarang waktunya berbuat dan bekerja untuk rakyat. Bila mau berkompetisi lagi, tunggu lima tahu lagi. Saatnya DPR mengawal harapan rakyat, yang sudah mempercayakan kepemimpinan kepada Jokowi-JK," ungkap Ara, yang juga Ketua Umum Taruna Merah Putih. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

AS dan Iran Kembali Saling Serang

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:02

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.400, BI Soroti Tekanan Global

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:32

Harga Minyak Melonjak Meski OPEC+ Berencana Tambah Produksi

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22

Polri Larang Anggota Live Streaming Saat Berdinas

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:18

Kenaikan HET MinyaKita Picu Harga Lewati Batas Wajar

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Prabowo Minta Kampus Bantu Pemda Atasi Masalah Sampah hingga Tata Kota

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Penyelidikan Korupsi Lahan Whoosh Mandek, KPK Akui Beban Perkara Menumpuk

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:08

Aktivis HAM Tak Perlu Disertifikasi

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Dubes Perempuan RI Baru Sekitar 10 Persen, Jauh dari Target 30 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Selengkapnya