Berita

Bisnis

Soal BBM, Pemerintah Harus Tegas

RABU, 03 SEPTEMBER 2014 | 16:31 WIB | LAPORAN: ADE MULYANA

Pemerintah harus tegas dalam mengambil kebijakan tentang bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.  Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Raja Sapta Oktohari mengungkapkan, pemerintah sudah seharusnya tidak terus menciptakan kepanikan di masyarakat,”

"Masalah subsidi BBM sudah lama membebani APBN. Kebijakan ini tidak bisa "diayun" terus. Pemerintah harus tegas, jangan terus menciptakan kepanikan di masyarakat," ujar Okto kepada wartawan (Rabu, 3/9).

Subsidi BBM yang terlampau tinggi hingga mencapai ratusan triliun di Tanah Air telah lama membebani anggaran pengeluaran pemerintah. Sepanjang tahun ini, total subsidi energi diprediksi mencetak rekor hingga senilai lebih dari Rp 350 triliun. Jumlahnya mencapai sekitar 21 persen dari total anggaran pemerintah atau sekitar 3,4 persen dari produk domestik bruto.


Menurut Okto, pemerintah harus segera melakukan perubahan harga BBM bersubsidi. Sebab denganmemangkas subsidi BBM bisa memberikan ruang fiskal yang lebih luas bagi pemerintah untuk meningkatkan perekonomian nasional.

"Saya ingat analogi Pak Jusuf Kalla tentang harga BBM di Indonesia. JK menyampaikan bahwa BBM di Indonesia sangatlah murah,  dan daginglah yang mahal," lanjut Okto.

Dikatakan lebih lanjut, memang ada resiko jika pemerintah menaikkan harga jual BBM bersubsidi. Sebut saja diantaranya kenaikan inflasi hingga kenaikan angka kemiskinan. Oleh karenanya pemerintah diharapkan menyiapkan jaring pengaman sosial yang meringankan beban hidup masyarakat.

"Social safety net sangat diperlukan untuk menjaga gene rasio atas kesenjangan ekonomi antara kaya dan miskin. Memang tidak akan mudah mengangkat kelompok miskin seketika tetapi dengan peningkatan fasilitas umum, jaminan kesehatan dan pendidikan yang disupport oleh pemerintah akan meringankan beban masyarakat," papar dia.

Dari sisi politis menaikkan harga jual BBM memang bukan kebijakan yang populis. Namun agar masalah BBM bersubsidi tidak lagi menjadi masalah klasik, pemerintah harus berani mengambil kebijakan yang sangat drastis.

"Memang hal ini akan menurunkan popularitas pemerintahan. Namun, HIPMI yakin dengan kebijakan memangkas subsidi BBM akan memberikan multiplier effect bagi banyak hal," ungkapnya.[dem]

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Merawat Tradisi Intelektual Mahasiswa Lewat Peluncuran Buku Pergerakan

Senin, 06 Juli 2026 | 03:59

Demokrasi Liberal dan Benteng Oligarki

Senin, 06 Juli 2026 | 03:43

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

Senin, 06 Juli 2026 | 03:20

Polresta Bandara Soetta Bongkar Home Industry Vape Isi Ganja Beromzet Miliaran

Senin, 06 Juli 2026 | 02:59

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

Senin, 06 Juli 2026 | 02:35

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

Senin, 06 Juli 2026 | 02:12

Nyali Semesta: Ali Khamenei dan Puncak Kepemimpinan Transendental

Senin, 06 Juli 2026 | 01:57

UMKM dan Budaya Minangkabau Bergaung di Malaysia

Senin, 06 Juli 2026 | 01:40

Jaksa telah Berubah Menjadi Pengacara Jokowi

Senin, 06 Juli 2026 | 01:20

Aiptu Sumaryanto jadi Korban Ketiga yang Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59

Selengkapnya