Berita

Mahfud MD

Wawancara

WAWANCARA

Mahfud MD: Bakal Ada Peristiwa Besar Setelah 1 Oktober Dan 20 Oktober 2014

SENIN, 01 SEPTEMBER 2014 | 09:30 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Bekas Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD merasa tidak layak menjadi menteri pemerintahan Jokowi-JK.

“Saat pilpres lalu, saya kan berada di kubu pesaing Jokowi-JK, sehingga nggak layak jadi menteri,’’ kata Mahfud MD kepada Rakyat Merdeka, Jumat (29/8).

Bekas Ketua Tim Sukses Prabowo-Hatta itu merasa tidak etis jadi menteri.
Makanya untuk sekarang ini, dia konsentrasi mengajar. Tapi mengamati perkembangan politik. “Saya akan mengajar dan Wait and see  saja atas geliat politik yang terjadi nanti,” ujarnya.

Makanya untuk sekarang ini, dia konsentrasi mengajar. Tapi mengamati perkembangan politik. “Saya akan mengajar dan Wait and see  saja atas geliat politik yang terjadi nanti,” ujarnya.

Berikut kutipan selengkapnya:

Anda tidak mau terjun ke dunia politik lagi?
Bukan begitu.

Lalu apa langkah politik Anda ke depan?

Menunggu dan melihat saja ke depan. Ini akan terjadi dinamika politik luar biasa.

Apa saja itu?

Pertama,  pembentukan kabinet. Sekarang ini sudah mulai terasa panas. Kedua, pemilihan pimpinan DPR, sehingga nanti sesudah 1 Oktober 2014 (pemilihan Ketua DPR) dan 20 Oktober 2014 (pelantikan presiden dan wapres) akan ada peristiwa besar.

Ke depan akan ada konfigurasi politik. Kalau ada peluang tentu apa yang bisa saya sumbangkan akan disumbangkan untuk bangsa dan negara.

Kalau diminta jadi menteri Jokowi-JK, bagaimana?
Saya tidak berpikir sampai ke sana. Rasanya saya tidak layak berada di sana.

Kenapa?
Itu kurang bagus juga untuk pendidikan politik ke depan. Kalau itu dilakukan, ke depan akan banyak orang melakukan hal-hal yang terlalu permisif, yakni sesudah kalah, pindah ke yang menang.

Bukankan membangun bangsa harus bersama-sama?
Kalau ada pendapat demikian, silakan saja. Tapi saya menilai tidak etis kalau saya  bergabung ke pemerintahan Jokowi-JK nanti. Sebab saya berasal dari kubu lawan saat pilpres. Nanti bisa membenarkan tuduhan saya meloncat ke kubu lawan. Padahal saya hanya melakukan tanggung jawab secara sportif.

Apa karena itu saja?
Selain itu, yang berkeringat untuk Jokowi-JK sangat banyak. Masak saya mau enak-enakan masuk melewati orang yang berkeringat di sana.

Anda tidak mau mengabdi untuk bangsa dan negara?

Siapa bilang. Mengajar ini kan salah satu bentuk pengabdian. Tapi kalau ada peluang mengabdi tapi tidak melanggar etika dan hukum, pasti saya lakukan.

Apa ada penyesalan atas  pilihan politik Anda saat pilpres?
Tidak. Saya tahu sebelum melangkah sudah ada peringatan dari para kiai, teman dan kolega. Ada yang bilang, kalau saya diam saja waktu itu atau tidak berpihak kemana-mana pasti dapat menteri.

Kenapa Anda tidak mengikuti saran itu?
Tapi ini kan pilihan politik saya. Makanya saya tidak menyesal. Karena alasan saya tidak sekadar alasan teknis. Tapi ada alasan fundamental yang membuat saya melakukan pilihan politik tersebut.

Apa itu?
Ada deh. Saya tidak bisa sebutkan. Tadinya alasan fundamental itu akan saya sampaikan seandainya pasangan capres Prabowo-Hatta menang pilpres.

Tapi kalau sudah kalah seperti sekarang ini, apa pun alasannya tidak diperlukan lagi, baik bagi Prabowo atau masyarakat karena biasanya orang tidak peduli.
Yang jelas pilihan politik saya itu bukan kejahatan hukum dan politik.

Sekarang apa kegiatan Anda?
Mengajar di sejumlah universitas. Saya membayar hutang mengajar dululah. Saya sempat meninggalkan dunia mengajar saat menghadapi pilpres lalu.

Enak terjun di dunia pendidikan?
Kalau asyiknya itu di dunia pendidikan. Sebab, kita berhadapan dengan logika dan rasionalitas. Di situ ada keterbukaan.

Dalam dunia pendidikan itu kita lebih banyak menambah kolega dan kenalan. Di dunia politik memang tidak bisa dihindari akan tambah banyak kawan. Tapi juga akan tambah banyak musuh.

 Di politik hasilnya bisa dilihat dalam waktu pendek. Tapi saya tidak pernah kecewa didunia politik karena memang ada eskalasi perkawanan dan permusuhan atau persaingan. Makanya jangan berharap di dunia politik itu kita disukai semua orang. ***

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Polisi Tangkap Pembacok Pegawai Toko Roti di Cengkareng

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:55

Bank Mandiri Gelar Mandiri Lelang Festival 2026, Penawaran 50% di Bawah Pasaran

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:51

KPK Jangan Omdo, Dugaan Korupsi Sinyal Kereta Harus Dibongkar Tuntas

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:40

DPR Sebut Skandal Seksual di Ponpes Pati sebagai Pelanggaran HAM Berat

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:16

Unhas Siap jadi Pusat Unggulan MBG di Indonesia Timur

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:50

Kapolri Siap Eksekusi 3.000 Halaman Rekomendasi Reformasi Polri

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:44

Kompetisi Perguruan Tinggi Tanpa Fondasi Keadilan

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:25

Pelanggaran Tambang Tidak Cukup Diselesaikan dengan Uang

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:00

KPK Kembangkan Penyidikan Baru Kasus OTT Anak Buah Bobby Nasution

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Terima 10 Buku Rekomendasi Reformasi Polri di Istana

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:47

Selengkapnya