Berita

jokowi-jk/net

Jokowi-JK Haram Mengemis pada SBY agar Naikkan Harga BBM!

MINGGU, 31 AGUSTUS 2014 | 09:06 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Silang pernyataan antara Jokowi-JK dan SBY tentang siapa yang akan bertanggungjawab untuk menaikkan harga BBM demi mengurangi subsidi BBM dan memperkecil defisit anggaran tidak perlu terjadi.

Demikian disampaikan Direktur Eksekutif Pusaka Trisakti Fahmi Habsyi. Menurut Fahmi, bila pun pemerintahan Jokowi-Kalla, atau Jokka, yang menaikkan harga BBM, maka itu haruslah disikapi bijak sebagai lompatan besar pemerintahan Jokka untuk memindahkan anggaran APBN yang selama ini selalu diarahkan untuk memuaskan "kantong mafia minyak" dan birokrat korup ke "kantong program percepatan pembangunan dan kesejahteraan rakyat".

Dengan demikian, lanjutnya, logika yang harus dibangun bukan menaikkan harga BBM tapi mengurangi impor BBM yang dinikmati oleh mafia mintak dan birokrat korup era SBY dengan bungkus pencitraan subsidi energi. Karena itu juga, pemerintahan Jokka, tidak perlu ragu membatasi impor BBM dengan jalan menaikkan harga BBM. Jalan keraguan dan pencitraan yang diambil SBY tidak pantas ditiru oleh pemerintahan Jokowi-JK.


"Kita tidak perlu menengok kebelakang dengan menyalahkan kebijakan keliru pemerintahan SBY selama ini yang membiarkan pemerintahannya untuk terus mengimpor BBM dengan alasan klasik demi subsidi rakyat tapi dengan skema menggunakan tangan pihak ketiga tanpa membiarkan Pertamina langsung impor sendiri," Fahmi kepada Rakyat Merdeka Merdeka Online beberapa saat lalu (Minggu, 31/8).

Fahmi juga mengatakan, langkah revolusi mental yang terpenting harus dilakukan bersamaan oleh pemerintahan Jokowi-JK setelah menaikkan BBM adalah segera mendesak dan memberikan dukungan politik, moril, dan materil kepada KPK dan aparat penegak hukum untuk menginvestigasi cepat dan mengkaji secara mendalam siapa yang bertanggung jawab dan ikut menikmati "pesta pora" atas tata niaga BBM selama era ini. Sehingga ke depan publik dan rakyat bisa memahami kebijakan menaikkan BBM juga diikuti dengan upaya membersihkan dan menyita untuk negara hasil-hasil kejahatan tata niaga BBM yang dinikmati birokrat korup era SBY.

Fahmi menegaskan, Jokowi dan JK dipilih publik karena ada keyakinan keduanya mempunyai integritas dan niat baik, juga antitesis kepemimpinan SBY. Sehingga menaikkan harga BBM diyakini publik bukan vested interest tapi karena Jokowi-JK harus mewujudkan program di tengah keterbatasan fiskal, sekaligus menghentikan mafia minyak yang menikmati impor BBM selama ini dan mengalihkan anggaran untuk mewujudkan visi-misi Trisakti yang dijanjikan.

"Ini saat tepat menggunakan ATM politik Jokka  karena disinilah tantangan dan seni kepemimpinan Anda berdua, Mas Jokowi dan Daeng Ucu, ditampilkan," tandasnya
Fahmi mengingatkan PDIP dan Jokka, haram mengemis pemerintahan SBY untuk menaikkan BBM, karena kondisi kuldesak ini imbas dari sikap keraguan sekaligus ketidakbecusan pemerintahan SBY mengelola sektor energi dan anggaran negara selama 10 tahun terakhir.

"You have to take your own risk. Waktu dan sejarah akan membuktikan jebakan batman siapa yang kena. Yang menaikkan BBM saat ini atau yang membiarkan carut marutnya tata niaga BBM selama ini. Kejahatan terorganisir hanya bisa dilawan dengan kebaikan yang terorganisir pula. Jokowi-JK harus mampu mengorganisir kebaikan itu," demikian Fahmi, yang juga salah seorang inisiator PDIP Projo ini. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

UPDATE

AS dan Iran Kembali Saling Serang

Selasa, 05 Mei 2026 | 12:02

Rupiah Melemah Tajam ke Rp17.400, BI Soroti Tekanan Global

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:40

Ekonomi RI Tumbuh 5,61 Persen di Kuartal I-2026, Tertinggi Sejak Pandemi Covid-19

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:32

Harga Minyak Melonjak Meski OPEC+ Berencana Tambah Produksi

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:22

Polri Larang Anggota Live Streaming Saat Berdinas

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:18

Kenaikan HET MinyaKita Picu Harga Lewati Batas Wajar

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Prabowo Minta Kampus Bantu Pemda Atasi Masalah Sampah hingga Tata Kota

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:09

Penyelidikan Korupsi Lahan Whoosh Mandek, KPK Akui Beban Perkara Menumpuk

Selasa, 05 Mei 2026 | 11:08

Aktivis HAM Tak Perlu Disertifikasi

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Dubes Perempuan RI Baru Sekitar 10 Persen, Jauh dari Target 30 Persen

Selasa, 05 Mei 2026 | 10:40

Selengkapnya