Berita

jokowi dan tim transisi/net

Politik

Tim Transisi Tukang Nyontek?

SELASA, 19 AGUSTUS 2014 | 16:16 WIB | OLEH: ARIEF GUNAWAN*

SEKARANG katanya sudah terdengar suara-suara yang mengatakan publik ingin tahu apa sebenarnya yang dikerjakan Tim Transisi Jokowi-JK, yang katanya merupakan think-thank bagi pemerintahan Jokowi kelak.

Bagaimana mekanisme kerja tim tersebut, siapa saja yang dilibatkan dalam merumuskan berbagai persoalan pemerintahan yang notabene merupakan persoalan bangsa dan negara yang sedemikan berat, apa prioritasnya, misalnya dalam bidang hukum, sosial, ekonomi, politik, kebudayaan, pertahanan, dan sebagainya.

Soalnya ada kekhawatiran terjadi monopoli yang bisa mendikte kebijakan Jokowi dalam memimpin pemerintahan kelak kalau tidak ada kontrol dari publik.


Lagi pula seperti diketahui ide pembentukan Tim Transisi tidak orisinil, melainkan hasil contekan (bahasa akademisnya: plagiat) dari tradisi politik yang sudah ada di Amerika, dimana di sana tim seperti itu lazim dibentuk oleh capres yang menang dalam Pilpres dengan tugas dan fungsi yang secara transparan bisa diketahui oleh masyarakat luas.

Karena itu tim ini diharapkan tidak menjadi monopoli elit yang sudah pasti sarat dengan berbagai kepentingan, baik kepentingan pribadi maupun kepentingan kelompok yang ada di sekitar Jokowi. Makanya Jokowi diharapkan: Pertama, melakukan komunikasi dengan tokoh-tokoh berintegritas dan benar-benar punya kompetensi di bidangnya masing-masing, misalnya dalam bidang ekonomi, pertahanan, sosial, pendidikan/kebudayaan, dan sebagainya. Jokowi perlu mendengarkan visi mereka secara utuh sebagai pembanding kerja Tim Transisi.

Kedua, Jokowi sebaiknya jangan mau dijadikan "tukang tadah" atas hasil kerja Tim Transisi. Karena itu gaya komunikasi politik "blusukan" yang merupakan ciri karakter egaliter Jokowi seharusnya diteruskan. Konteksnya adalah membuka komunikasi dengan sebanyak-banyaknya tokoh terutama para tokoh yang memiliki keberpihakan yang jelas terhadap rakyat, yang visi keindonesiaannya kuat. Yang hati dan pikirannya benar buat Indonesia.

Ketiga, Jokowi harus memastikan bahwa hasil kerja Tim Transisi bukan sekadar hasil kerja copy-paste atau hasil contekan dari hasil pemikiranorang lain atau pihak lain. Kalau ini yang dilakukan oleh Tim Transisi yang notabene di dalam tim tersebut terdapat pula kelompok akademisinya maka bisa dikatakan akademisi tersebut melanggar etika akademi karena tradisi akademisi sangat mengharamkan pelanggaran etika.

Belum lama ini misalnya muncul kecaman dari publik terhadap Tim Transisi karena melontarkan sebuah wacana ide yang tidak orisinil, yakni mengenai pemangkasan anggaran perjalanan dinas aparatur pemerintah dalam RUU APBN 2015. Rupa-rupanya ini pun hasil contekan dari gagasan mantan Menko Ekonomi era Presiden Gus Dur, yaitu Dr Rizal Ramli.

Kecaman yang dialamatkan kepada Tim Transisi ini belakangan rame di ruang-ruang publik. Soalnya katanya ide itu murni merupakan pemikiran dan perjuangan lama mantan Menko Ekonomi di era Presiden Gus Dur tersebut, yang diakui oleh banyak kalangan expert dan tau persis bagaimana melakukan penghematan anggaran dalam APBN.

Tradisi akademik itu katanya sangat mengharamkan plagiatisme. Di dalam tradisi akademik katanya harus ada acknowledgement (pengakuan) atas pemikiran, ide, atau gagasan yang merupakan milik pihak lain, jangan asal main comot dengan mengatasnamakan Kantor Transisi.

Kita mafhum Jokowi itu orang baik, orisinil, dan otentik, karena itu janganlah ia dicemarkan oleh urusanurusan beginian akibat ulah orangorang di dekatnya.[***]

Penulis adalah pengasuh rubrik Vox Populi Harian Rakyat Merdeka 

Populer

Jumlah Personel TNI Tidak Masuk Akal

Sabtu, 30 Mei 2026 | 03:36

Penutupan Alfamart dan Indomaret Jangan Salahkan KDKMP

Kamis, 28 Mei 2026 | 06:00

Ketika Jenderal Memimpin yang Bukan Bidangnya

Kamis, 04 Juni 2026 | 00:15

Tiga Pensiunan Jenderal Nyungsep Gegara Tersandung Kasus

Jumat, 05 Juni 2026 | 03:16

KPK Dikabarkan OTT Pejabat Imigrasi Jakarta Barat, Diduga Terkait TKA

Rabu, 03 Juni 2026 | 07:33

Rita Widyasari: Dari Suap, Gratifikasi dan TPPU hingga Korporasi Tambang

Rabu, 03 Juni 2026 | 17:07

Ketika Pencalonan Ryamizard Ryacudu sebagai Panglima TNI Dianulir SBY

Selasa, 02 Juni 2026 | 03:18

UPDATE

Asta Cita Tanpa Konsistensi akan Timbul Moral Hazard

Senin, 08 Juni 2026 | 05:48

Pameran ‘Aku Arek Suroboyo’ Ramaikan Peringatan Bulan Bung Karno

Senin, 08 Juni 2026 | 05:24

GP Ansor Jakbar Gelar Diklatsar Tanggapi Sebutan ‘Gotham City’

Senin, 08 Juni 2026 | 04:59

Pernyataan Purbaya dan Djaka Saling Menguatkan dalam Kasus Tiffany & Co

Senin, 08 Juni 2026 | 04:46

Perkuat KDKMP

Senin, 08 Juni 2026 | 04:26

Purbaya Tidak Punya Backup Politik untuk Jalankan Misi Presiden

Senin, 08 Juni 2026 | 03:57

Jangan Kasih Tempat untuk Boti di Negeri Ini!

Senin, 08 Juni 2026 | 03:37

BEI Jabar Gencarkan Literasi Pasar Modal ke Kampus hingga SD

Senin, 08 Juni 2026 | 03:17

Menanti Hasil Uji Fundamental Perekonomian Indonesia

Senin, 08 Juni 2026 | 02:59

IPB University Raih Juara Umum Program Mahasiswa Berdampak Kemendiktisaintek

Senin, 08 Juni 2026 | 02:50

Selengkapnya