Berita

ilustrasi/net

Apakah Kejahatan Pilpres Akan Menuai Malapetaka

SABTU, 16 AGUSTUS 2014 | 10:09 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Hingga saat ini, pemilihan presiden (pilpres) masih menyisakan persoalan yang cukup rumit, dan bila tidak diselesaikan dianggap bisa menjadi malapetaka.

Persoalan itu bukan semata terkait dengan keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang telah menetapkan Jokowi-JK sebagai pemenang. Bukan pula sekedar gugatan yang diajukan Prabowo-Hatta di Mahkamah Konstitusi (MK). Persoalan itu jauh lebih mendasar dari soal dua pasangan kandidat pilpres.

Misalnya, ada sementara pihak yang mempertanyakan legalitas pemilu dan Pilpres. Hal ini juga bukan semata terkait sikap KPU yang mengeluarkan beberapa peraturan yang dinilai tidak diatur oleh UU atau bahkan menyalahi UU, melainkan juga terkait dengan keputusan MK sendiri yang sudah menetapkan bahwa pemilu dan pilpres yang tidak digabung atau tidak digelar secara bersamaan itu tidak konstitusinal. Namun tetap saja pilpres digelar.


Persoalan semakin rumit, dan dinilai sebagai malapetaka, ketika ada kecurigaan bahwa pilpres ini juga "ditongkrongin" asing. Asing begitu punya kepentingan pada Indonesia, bukan hanya pada proses demokratisasi, melainkan juga pada penjajahan bentuk baru dengan modus penguasaan sumber daya mineral.

Untuk membongkar persoalan ini, Insititut Ekonomi Politik Soekarno Hatta (IEPSH) akan menggelar diskusi publik, dengan tema "Apakah Kejahatan Pilpres Akan Menuai Malapetaka Bangsa." Diskusi yang akan dilaksanakan pada Senin 18 Agustus ini, sebagaimana dalam keterangan kepada redaksi, akan menghadirkan beberapa pembicara.

Di antara pembicara itu adalah tokoh nasional Rachmawati Soekarnoputri,  mantan anggota KPU Chusnul Mar'iah, anggota DPD Poppy Dharsono, ahli IT Justiani serta budayawan Ratna Sarumpaet. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Polisi Tangkap Pembacok Pegawai Toko Roti di Cengkareng

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:55

Bank Mandiri Gelar Mandiri Lelang Festival 2026, Penawaran 50% di Bawah Pasaran

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:51

KPK Jangan Omdo, Dugaan Korupsi Sinyal Kereta Harus Dibongkar Tuntas

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:40

DPR Sebut Skandal Seksual di Ponpes Pati sebagai Pelanggaran HAM Berat

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:16

Unhas Siap jadi Pusat Unggulan MBG di Indonesia Timur

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:50

Kapolri Siap Eksekusi 3.000 Halaman Rekomendasi Reformasi Polri

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:44

Kompetisi Perguruan Tinggi Tanpa Fondasi Keadilan

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:25

Pelanggaran Tambang Tidak Cukup Diselesaikan dengan Uang

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:00

KPK Kembangkan Penyidikan Baru Kasus OTT Anak Buah Bobby Nasution

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Terima 10 Buku Rekomendasi Reformasi Polri di Istana

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:47

Selengkapnya