Berita

ilustrasi

Bisnis

Menteri PU Miris 10,6 Juta Orang Hidup Miskin Di Perkotaan

Dampak Urbanisasi
SELASA, 12 AGUSTUS 2014 | 09:41 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Pemerintah mengakui ada sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang cukup berat yang harus dikerjakan. Salah satunya mengendalikan perpindahan manusia dari desa ke kota atau urbanisasi.

“Tantangan terbesar yang kita hadapi dalam beberapa tahun terakhir ini adalah urbanisasi,” kata Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto, kemarin.

Menurut Djoko, melihat data Badan Pusat Statistik (BPS) 2010, jumlah penduduk Indonesia 237,6 juta. Dari jumlah itu hanya 49,79 persen hidup di wilayah pedesaan. Sisanya sudah ada dan pindah ke kota-kota besar.


Djoko memprediksi, jumlah penduduk Indonesia yang tinggal di perkotaan akan membengkak menjadi 68 persen pada 2025.

“Di Indonesia, sejak empat dekade terakhir menunjukkan jumlah orang yang tinggal di kota tiga kali lipat lebih besar,” cetusnya.

Beberapa kota Metropolitan yang menjadi tujuan masyarakat desa bermigrasi antara lain Jakarta dan sekitarnya (Bekasi, Bogor dan Tangerang), Surabaya, Bandung, Medan, Makassar serta Palembang.

Saat ini kota-kota tersebut telah menjadi pusat kegiatan ekonomi, teknologi, inovasi dan ikut menyumbang pertumbuhan ekonomi nasional.

“Perlu diketahui, penyebaran jumlah penduduk yang banyak di kota perlu juga disediakan perumahan yang layak dan layanan dasar untuk menghindari konflik sosial dan degradasi lingkungan,” terang Djoko.

Dia mengungkapkan, ada sejumlah dampak negatif dari membludaknya jumlah penduduk di perkotaan. Misalnya, sanitasi yang buruk, akses air bersih yang kurang serta timbulnya daerah kumuh dan liar di perkotaan.

Pada 2013, kata dia, ada 10,6 juta orang yang hidup miskin di wilayah perkotaan. Kota sekarang menjadi korban utama dari dampak kegiatan tersebut seperti defisit air, sering banjir, naiknya permukaan laut dan kekeringan. Jadi beban bagi kota memiliki ketahanan yang lebih rendah.

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Menakertrans) Muhaimin Iskandar mengatakan, arus urbanisasi tidak hanya memindahkan penduduk saja. Secara tidak langsung, persoalan lain yang ada juga turut dipindahkan.

Misalnya, para penduduk baru yang datang tanpa keterampilan dan keahlian. Makanya,  mereka dianggap hanya menimbulkan peningkatan pengangguran di perkotaan.

“Sebagian besar dari mereka tidak dibekali keterampilan dan keahlian yang cukup untuk mencari pekerjaan yang sesuai sehingga dapat menjadi permasalahan baru di perkotaan,” ujar Muhaimin.

Seperti diketahui, data Bank Indonesia (BI), pertumbuhan ekonomi triwulan II 2014 tercatat 5,12 persen (yoy), melambat dibanding pertumbuhan ekonomi pada triwulan I sebesar 5,22 persen (yoy). Realisasi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) ini sedikit lebih rendah dari perkiraan BI.

 Direktur eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menilai, hasil pertumbuhan ekonomi hanya dinikmati segelintir pihak. Akibatnya, ketimpangan antara si kaya dan si miskin semakin melebar dalam 10 tahun terakhir ini. ***

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

UPDATE

Merawat Tradisi Intelektual Mahasiswa Lewat Peluncuran Buku Pergerakan

Senin, 06 Juli 2026 | 03:59

Demokrasi Liberal dan Benteng Oligarki

Senin, 06 Juli 2026 | 03:43

ICX Realisasikan Buyback Rp71 Miliar Perkuat Sistem Tata Kelola

Senin, 06 Juli 2026 | 03:20

Polresta Bandara Soetta Bongkar Home Industry Vape Isi Ganja Beromzet Miliaran

Senin, 06 Juli 2026 | 02:59

Manifesto AJIP Bali: Ketika Pariwisata Kehilangan Arah

Senin, 06 Juli 2026 | 02:35

Perpres 111/2025 soal LGBT Ancaman Nirmiliter jadi Langkah Preventif Terukur

Senin, 06 Juli 2026 | 02:12

Nyali Semesta: Ali Khamenei dan Puncak Kepemimpinan Transendental

Senin, 06 Juli 2026 | 01:57

UMKM dan Budaya Minangkabau Bergaung di Malaysia

Senin, 06 Juli 2026 | 01:40

Jaksa telah Berubah Menjadi Pengacara Jokowi

Senin, 06 Juli 2026 | 01:20

Aiptu Sumaryanto jadi Korban Ketiga yang Gugur saat Gerebek Bandar Narkoba di Katingan

Senin, 06 Juli 2026 | 00:59

Selengkapnya