Berita

Politik

Munas Golkar 2014 Keniscayaan untuk Evaluasi Paska Kekalahan

SENIN, 11 AGUSTUS 2014 | 16:13 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Kader Partai Golkar yang juga caleg terpilih dengan suara tertinggi, Nusron Wahid menilai tuntutan Munas Partai Golkar pada 2014 adalah alamiah. Tuntutan tersebut keniscayaan dan sudah seharusnya dilaksanakan organisasi, dan tidak ada kaitannya dengan jabatan menteri dalam Pemerintahan Jokowi-JK. Tidak maju dan tidak mundur. Sudah waktunya.

Menurut Nusron, Partai Golkar membutuhkan forum evaluasi besar-besaran pasca kegagalan secara beruntun dan bertubi-tubi, baik dalam Pemilu Legislatif dan Pemilu Presiden.

"Munas tahun ini (2014) tidak ada kaitan dengan menteri-menteri-an. Menteri itu hak prerogatif Pak Jokowi dan JK. Yang namanya habis kalah ya harus evaluasi. Perusahaan saja yang urusan private kalau ada kerugian besar  ada RUPS kok, masak partai yang urusan publik tidak ada forum evaluasi. Ini sudah keniscayaan,"  kata Nusron, Senin (11/8).


Nusron menjelaskan, sebagai partai dengan ideologi terbuka dan bersifat inklusif, Golkar harusnya membuka diri ruang evaluasi atas sikap politiknya selama ini. Sebab, sudah terbukti apa yang selama ini dilakukan Partai Golkar tidak mendapat dukungan publik dan rakyat. Padahal partai dibuat untuk mendapat dukungan massif dari rakyat.

"Pileg kursi sudah turun dan gagal menjadi pemenang. Pilpres gagal mengajukan calon, dan dukungannya juga tidak mendapat kemenangan. Artinya suara rakyat berbeda dengan suara Golkar. Ini yang harus dievaluasi. Jangan malah menutup dan mengulur-ulur evaluasi," ungkapnya.

Harusnya, kata Nusron, Golkar segera Munas dan kemudian bangkit menuju Pemilu 5 tahun mendatang. Ketua Umum GP Ansor ini menilai,  adalah pandangan yang picik dan sangat tidak rasional manakala ada anggota, kader dan instrumen partai lainnya yang meminta adanya forum evaluasi justru dianggap membahayakan partai.

"Yang ada sebaliknya. Partai justru dalam kondisi bahaya manakala tidak ada evaluasi. Pihak-pihak yang mencoba mempertahankan status quo itu lah yang berbahaya. Masak orang menuntut evaluasi dipecat. Ini partai tempat berembug urusan publik, bukan privat. Perbedaan itu biasa. Bukan asal beda justru mau dipecat," tegasnya.

Nusron menambahkan, kekuasaan Partai Golkar tertinggi ada di Munas. Bukan dalam sebuah forum atau sekelompok oligarkis tertentu yang mengatasnamakan partai. Karenanya, kata dia, model ancaman pemecatan terhadap beberapa kader Partai Golkar merupakan bentuk makin tidak legitimate-nya kepengurusan yang ada sekarang.

"Karena pendukung Munas makin banyak, maka yang diancam mau dipecat juga makin banyak. Lama-lama semua pengurus dipecat, karena semua akan mendukung Munas. Terus siapa pengurus dan anggotanya, kalau semua dipecat?. He he he," sindir Nusron.[wid]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Polisi Tangkap Pembacok Pegawai Toko Roti di Cengkareng

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:55

Bank Mandiri Gelar Mandiri Lelang Festival 2026, Penawaran 50% di Bawah Pasaran

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:51

KPK Jangan Omdo, Dugaan Korupsi Sinyal Kereta Harus Dibongkar Tuntas

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:40

DPR Sebut Skandal Seksual di Ponpes Pati sebagai Pelanggaran HAM Berat

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:16

Unhas Siap jadi Pusat Unggulan MBG di Indonesia Timur

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:50

Kapolri Siap Eksekusi 3.000 Halaman Rekomendasi Reformasi Polri

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:44

Kompetisi Perguruan Tinggi Tanpa Fondasi Keadilan

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:25

Pelanggaran Tambang Tidak Cukup Diselesaikan dengan Uang

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:00

KPK Kembangkan Penyidikan Baru Kasus OTT Anak Buah Bobby Nasution

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Terima 10 Buku Rekomendasi Reformasi Polri di Istana

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:47

Selengkapnya