Berita

sayuthi asyathri/net

Bukanlah Gerakan Islam Bila Bersendikan Kekerasan

SABTU, 09 AGUSTUS 2014 | 07:44 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Gerakan Islam apapun bila dilakukan dengan mengedepankan dan bersendikan kekerasan serta memecah belah persatuan maka itu pasti bukan dari Islam.

Demikian disampaikan cendekiawan muslim, Sayuti Asyathri. Menurut Sayuti, istilah dan pengertian kekerasan adalah semua bentuk tindakan yang menimbulkan kengerian dan kepedihan serta luka kemanusiaan yang tidak didasarkan pada suatu keyakinan dan pandangan dunia yang telah diuji dengan prinsip-prinsip objektivitas dan dalil dalil yang bisa diverifikasi dan dielaborasi oleh mereka yang memiliki kompetensi dan otoritas secara khusus dalam masalah tersebut.

Dalam kenyataannya, lanjut Sayuti, kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 9/8), kepentingan politik yang sempit telah mendangkalkan dan memanipulasi prinsip-prinsip tersebut. Sehingga memberikan celah bagi munculnya gerakan dan kelompok yang didisain kehadirannya oleh musuh kemanusiaan dan kebangsaan.


"Kepentingan politik yang sempit dan pragmatis juga bertanggungjawab pada peminggiran dan pengabaian terhadap peran para pemangku agenda pencerahan yang memiliki kompetensi dalam menyemai gerakan peradaban dn kemanusiaan," ungkap Sayuti.

Menurut Sayuti, selama proses penghinaan dan marjinalisasi para pencerah yang memiliki kompetensi dalam membangun pola pikir dan pola tindak yang komprehensif dan koheren berlangsung maka tidak pernah bisa mengeembangkan konsolidasi dan solidaitas kebangsaan untuk membela kaum tertindas secara efektif, sekaligus juga tidak akan berhasil menggalang kekuatan untuk meperjuangkan kemerdekaan sejati bangsa Indonesia.

"Proses pendangkalan dan marjinalisasi itu tentu saja didisain dan didorong kehadirannya oleh kekuatan materialisme dan kapitalisme global yang tidak ingin melihat banglkitnya peradaban yang berbasiskan kemanusiaan dan keadilan sosial yang bersumber dari nilai nilai Ketuhanan Yang Maha Esa," demikian Sayuti. [ysa]

Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Patroli AS di Selat Malaka Langgar Kedaulatan RI

Sabtu, 25 April 2026 | 05:15

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

UPDATE

Polisi Tangkap Pembacok Pegawai Toko Roti di Cengkareng

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:55

Bank Mandiri Gelar Mandiri Lelang Festival 2026, Penawaran 50% di Bawah Pasaran

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:51

KPK Jangan Omdo, Dugaan Korupsi Sinyal Kereta Harus Dibongkar Tuntas

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:40

DPR Sebut Skandal Seksual di Ponpes Pati sebagai Pelanggaran HAM Berat

Selasa, 05 Mei 2026 | 21:16

Unhas Siap jadi Pusat Unggulan MBG di Indonesia Timur

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:50

Kapolri Siap Eksekusi 3.000 Halaman Rekomendasi Reformasi Polri

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:44

Kompetisi Perguruan Tinggi Tanpa Fondasi Keadilan

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:25

Pelanggaran Tambang Tidak Cukup Diselesaikan dengan Uang

Selasa, 05 Mei 2026 | 20:00

KPK Kembangkan Penyidikan Baru Kasus OTT Anak Buah Bobby Nasution

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:49

Prabowo Terima 10 Buku Rekomendasi Reformasi Polri di Istana

Selasa, 05 Mei 2026 | 19:47

Selengkapnya