Berita

Teuku Faizasyah

Wawancara

WAWANCARA

Teuku Faizasyah: Bantahan SBY Soal Pemberitaan Wikileaks Tidak Terkait Situasi Politik Dalam Negeri

SENIN, 04 AGUSTUS 2014 | 10:35 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Presiden SBY tidak bermaksud ‘merayu’ Ketua Umum PDI Perjuangan (PDIP) Megawati Soekarnoputri agar diajak berkoalisi dalam pemerintahan mendatang.

’’Meski Presiden membela Bu Mega soal pemberitaan Wikileaks, itu tidak terkait situasi politik dalam negeri,’’ ujar Staf Khusus Presiden Bidang Hubungan Internasional Teuku Faizasyah, kepada Rakyat Merdeka, yang dihubungi via telepon, kemarin.

Seperti diketahui, SBY membantah dirinya dan bekas Presiden Megawati terlibat dalam kasus suap pencetakan uang kertas Indonesia di perusahaan Australia. Pemberitaan itu mencemarkan dan merugikan nama baiknya serta Megawati.


Wikileaks melansir kabar tentang pemerintah Australia yang mengintervensi penegak hukum untuk tak mengusut kasus pencetakan uang kertas Indonesia, Malaysia, dan Vietnam di Note Printing, Australia. Wikileaks menuding ada 17 nama pembesar di tiga negara itu yang terlibat, termasuk SBY dan bekas Presiden Megawati.  
     
Teuku Faizasyah selanjutnya mengatakan, bantahan SBY soal pemberitaan Wikileaks bertujuan untuk menepis fitnah.

“Saya tidak melihat adanya motif lain, karena sebelum mengeluarkan pernyataan tersebut, beliau berkomunikasi dan mengumpulkan informasi dari seluruh jajaran atau staf terkait,” paparnya.

Berikut kutipan selengkapnya:
 
Apa SBY berkomunikasi dengan Megawati sebelum mengkrarifikasi isu tersebut?
Sepengetahun saya tidak. Menurut saya, beliau tak harus berkomunikasi dengan Bu Mega, karena klarifikasi yang diberikan hanya untuk menepis fitnah.
 
Pak SBY bereaksi, karena tidak ingin informasi itu diasosiasikan sebagai kebenaran dan menjadi opini publik.

Megawati tidak mengomentari isu tersebut, apa reaksi presiden tidak berlebihan?
Saya tidak bisa mengomentari reaksi atau sikap Bu Mega. Langkah itu berpulang pada pribadi masing-masing.

Dari sisi Pak SBY, semakin cepat isu tersebut ditanggapi, itu sangat baik untuk menghindari fitnah atau pembentukan opini di masyarakat. Kami tidak ingin informasi Wikileaks terasosiasi sebagai kasus korupsi, kemudian diyakini sebagai kebenaran. Itu pertimbangan beliau.

Pihak Australia juga membantah informasi itu, bagaimana sikap presiden?
Dalam keterangan pers di kediamannya, sikap Presiden SBY sudah sudah sangat jelas. Intinya, pernyatan yang beliau keluarkan itu bertujuan untuk menghindari fitnah.

Kalau kita ikuti isunya, yang dipermasalahkan Wikileaks adalah proses peradilan di Australia. Pemerintah Australia juga telah membenarkan adanya surat perintah pencegahan penyebarluasan proses pengadilan kasus korupsi pencetakan uang kertas yang melibatkan Securency International dan Note Printing Australia.

Di hari yang sama, setelah Presiden SBY mengeluarkan pernyataan, pemerintahan Australia melalui Kedutaan Besar-nya di Indonesia juga langsung berekasi. Pemerintah Australia menekankan, Presiden dan mantan Presiden Megawati bukan pihak yang terlibat dalam proses pengadilan Securency.

Apa itu sudah dianggap selesai?
Kami menghargai respons cepat dari pemerintah Australia. Sebab, salah satu poin yang diminta presiden terkait kasus itu adalah meminta pemerintah dan otoritas Australia membuka akses bagi aparat penegakan hukum. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

Gaji 26 Wantimpres Prabowo Tembus Rp1,9 Miliar Tiap Bulan, Belum Termasuk Fasilitas

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 19:06

Jenderal Dedi Langsung Tancap Gas Siapkan Struktur Organisasi BRAN

Jumat, 02 Oktober 2026 | 01:43

Suyudi Pede Gusur Puluhan Pati-Pamen Loyalis Listyo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 05:09

Pergantian Kapolri untuk Antisipasi Putusan MK soal Gibran

Kamis, 01 Oktober 2026 | 18:19

UPDATE

Trump Tunjuk Katie Zacharia Jadi Sekretaris Pers Gedung Putih

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:27

Saat Outing Kantor Bergeser Jadi Strategi Korporat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 10:09

Harga Emas Meroket di Akhir Pekan Jadi Semahal Ini

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:57

FORU Anjlok 11,39 Persen, Transaksi Tembus Rp253 Miliar saat IHSG Rebound

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:44

Komisi V DPR Wanti-wanti Tiga Kementerian Jangan Saling Lempar Tanggung Jawab Soal Ojol

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:30

Harga Logam Dunia Bangkit Usai Aksi Borong di Level Rendah

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 09:01

Tiga Anggota OPM Meninggal Dunia Usai Kontak Tembak di Maybrat

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:46

Teguh Santosa: Pepera 1969 Sejalan dengan Prinsip Self Determination

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:31

Kapolri Pimpin Sertijab di Mabes Polri, Komjen Asep Resmi Jadi Irwasum

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:17

Wall Street Tutup Pekan Kedua di Zona Hijau

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 08:05

Selengkapnya