Berita

dradjad wibowo/net

Dunia

Berikut Beberapa Usul Dradjad kepada Pemerintah RI untuk Sikapi Tragedi Gaza

SABTU, 02 AGUSTUS 2014 | 10:22 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), diminta lebih aktif dalam mencegah krisis kemanusiaan yang lebih parah di Gaza, Palestina. SBY juga semestinya meniru PM Turki, Recep Tayyip Erdogan.

Hal itu ditegaskan Wakil Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) Dradjad Wibowo dalam pernyataan tertulis yang diterima redaksi (Sabtu, 2/8).

Dijelaskan Dradjad bahwa Turki aktif mengupayakan gencatan senjata di Gaza. Namun, PM Turki pun keras mengecam Israel, bahkan membandingkannya dengan Adolf Hitler dan Nazi-nya. Di sisi lain, Turki dan PM Erdogan tidak anti Semitik. Turki sangat melindungi warga Yahudi di negaranya.


Terlepas dari itu, Drajad menyampaikan beberapa usulan awal untuk pemerintah RI dalam menyikapi tragedi kemanusiaan di Gaza.

Pertama, pemerintah RI mesti mendesak Israel menghentikan kebrutalannya. Jangan lupa, Indonesia juga berisiko terkena imbas (spillover) dari kebrutalan Israel. Misalnya, kelompok garis keras di Indonesia bisa saja melampiaskan kemarahan dengan tindakan kekerasan di sini. Jadi, Indonesia punya legitimate concerns.

Kedua, Pemerintah RI harus aktif memberi tekanan agar kedua pihak melakukan gencatan senjata dan perdamaian yang hakiki. Contohnya, mengalang dukungan ASEAN sebagai langkah awal. Yakinkan meraka akan risiko spillover tersebut dan efeknya bagi ASEAN.

Pemerintah juga bisa menggunakan jalur komunikasi di G20, karena Indonesia adalah anggota G20 dengan penduduk Muslim terbesar. Dalam hal ini Indonesia punya legitimate concerns dan menghadapi risiko spillover. Pemerintah RI mesti mengajak negara-negara OKI agar aktif mengupayakan gencatan senjata dan perdamaian, serta kemerdekaan Palestina sebagaimana retorika pemerintah RI selama ini.

"Presiden sebaiknya menugaskan Menlu atau utusan khusus Presiden untuk menjalankan butir kedua di atas," terangnya.

Dradjad menyadari geopolitik terkait Hamas dan Palestina sangat kompleks. Arab Saudi, Jordan, UAE, Mesir dan lainnya sangat anti terhadap Ikhwanul Muslimin (IM), sementara Hamas adalah Ikhwanul Muslimin-nya Palestina. Di sisi lain, Qatar dan Turki lebih dekat ke IM.

"Isunya memang sangat kompleks. Meski demikian, saya yakin RI tetap mampu memberikan kontribusi jika memang mau pro-aktif. Jika pemerintah RI sudah mengambil langkah awal di atas, terdapat beberapa langkah lanjutan yang lebih konkret bisa dilakukan," tegasnya. [ald]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya