Berita

ilustrasi/net

Politik

Prabowo Tidak Bohong

SABTU, 26 JULI 2014 | 15:37 WIB | OLEH: EMPIE ISMAIL MASSARDI

22 Juli lalu, disaksikan  dengan harap-harap cemas ratusan juta pasang mata penduduk negeri ini , KPU tanpa  mengindahkan keberatan kubu Prabowo-Hatta, dengan angkuhnya menetapkan pasangan Jokowi-JK sebagai pemenang Pilpres 2014.

Dengan ketetapan itu, secara sadar, KPU telah melumuri tangannya dengan darah karena melakukan "Genosida Demokrasi" atas 62 juta suara rakyat yang mempercayakan segala  harapan kepada Prabowo-Hatta untuk bisa membawa bangsa ini hidup lebih baik dan bermartabat.

62 juta suara rakyat yang berdaulat atas negeri ini pun dalam sekejap musnah oleh kebengisan KPU, lenyap tanpa makna. Dan KPU, sebagai otoritas resmi penyelenggara pemilu, sedang melegitimasi sebuah sistem demokrasi baru, "Demokrasi Zombie". Sebuah sistem demokrasi yang menafikan hati dan nurani. Sistem demokrasi yang menghalalkan segala cara untuk menang, bahkan memakan bangkai saudaranya sendiri sekalipun!


Tapi, benarkah KPU serendah itu? Benarkah KPU tidak memiliki hati nurani sehingga segala keberatan kubu Prabowo-Hatta atas proses pilpres dan rakapitulasi suara dianggap angin lalu? Atau jangan-jangan, segala opini yang dilontarkan kubu Prabowo tentang adanya kecurangan pilpres yang terstruktur, sistematis dan masif hanya akal-akalan pihak yang putus asa. Karena tuduhan adanya kecurangan terstruktur, sistimatis dan, masif pada setiap pemilu, biasa dilontarkan oleh kubu yang cenderung kalah. Apakah kubu Prabowo-Hatta sedang melakukan upaya kebohongan ini dengan asal tuduh? Atau, benarkah  kubu Prabowo-Hatta telah dicurangi secara tsm?

Untuk mengetahui kebenaran jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut, kemudian penulis berusaha mengakses sumber berita Langit. Berita yang kebenarannya bisa dipertanggungjawabkan secara spiritual. Dan hasilnya sungguh mengejutkan, Prabowo-Hatta ternyata memang tidak sedang melakukan kebohongan.

Berita Langit memperlihatkan dengan jelas bahwa, Prabowo-Hatta telah dicurangi. Ada dua hal kecurangan yang diperlihatkan dalam berita visual tersebut: 1. Adanya  orang "berseragam" yang mengurangi perolehan suara Prabowo-Hatta masif. Dan, yang ke-2, ada kekuatan besar yang  menggelembungkan suara , kebanyakan dilakukan di wilayah timur.

Dengan adanya berita langit tersebut, kemudian penulis jadi teringat pada peristiwa berita sebelum dan sesudah 9 Juli. Saat itu, beberapa hari menjelang pemungutan suara, JK mengatakan,"Hanya kecuranganlah yang bisa mengalahkan mereka!" Dan sekitar dua hari menjelang 9 Juli, ada lembaga survei yang tiba-tiba mengumumkan bahwa elektabilitas Jokowi-JK mengalami rebound dan  unggul 3 persen lebih dari Prabowo-Hatta.

Kemudian, satu jam setelah pemungutan suara ditutup, tanpa etika politik, kubu Jokowi-JK melakukan deklarasi kemenangan sepihak. Klaim kemenangan sepihak ini lantas memicu kubu Prabowo-Hatta  pun melakukan deklarasi kemenangan balasan, beberapa jam kemudian.
Setelah saling klaim ini menuai pro kontra, mendadak Burhanudin, tukang survey yang dibayar untuk melakukan Hitung Cepat bagi kubu Jokowi-JK mengatakan hasil hitung cepatnyalah yang benar jika real count KPU berbeda.

Dari rangkaian peristiwa sebelum dan sesudah 9 Juli itu, kemudian bisa disimpulkan kubu Jokowi-JK sedang membangun persepsi publik yang terencana bahwa kubu Prabowo-Hatta lah yang kemungkinan akan melakukan kecurangan, sedangkan mereka tidak. Dengan bantuan media-media, utama yang dibayar untuk berpihak, kubu Jokowi-JK akhirnya sukses membangun persepsi tersebut. Mereka dianggap tidak akan dan tidak mungkin melakukan kecurangan, walau sungguh melakukannya sekalipun!

Terus bagaimana selanjutnya? Selanjutnya, bagi Anda 62 juta suara  yang memilih Prabowo-Hatta,  masih bisa terus mengawal perjuangan Prabowo-Hatta untuk memperoleh keadilan hukum di MK dengan doa.  Berdoalah agar para hakim MK yang mulia bisa melihat adanya kecurangan yang terstruktur, sistimatis dan, masif pada proses pilpres 9 Juli lalu, seperti apa yang dicatat Langit. Kemudian, apa pun hasil di MK nanti, percayalah, Anda  sudah berada di jalan yang  benar dalam menjatuhkan pilihan atas  Prabowo.

Teruslah berdoa agar Allah memilihkan seorang pemimpin yang akan membawa negeri ini kedalam keberkahan-Nya, bukan  pemimpin yang akan menggiring bangsa ini pada musibah perpecahan dan kehancuran!

Wallahu a’lam bish-shawabi!

*penulis adalah pengamat spiritual


Populer

Kalahkan Hary Tanoe, Jusuf Hamka akan Kembalikan TPI ke Tutut Soeharto

Sabtu, 25 April 2026 | 15:43

Usai Rumah Digeledah, Noor Aflah Diperiksa KPK

Senin, 20 April 2026 | 14:11

China Peringatkan RI Tak Rusak Stabilitas Regional

Sabtu, 18 April 2026 | 02:00

Purbaya Kecewa Banyak Pegawai Kemenkeu Tak Jalankan Tugas: Digeser Baru Nangis

Kamis, 23 April 2026 | 01:30

Jusuf Hamka Sujud Syukur Menang Gugatan Lawan Hary Tanoe

Kamis, 23 April 2026 | 12:34

Drone Emprit Temukan Manipulasi Konteks dalam Penyebaran Video Ceramah JK

Sabtu, 25 April 2026 | 02:37

Kekesalan JK Dipicu Sikap Gibran dan Serangan Termul

Senin, 20 April 2026 | 12:50

UPDATE

Tourism Malaysia Gencarkan Promosi Wisata di Tiga Kota Indonesia

Selasa, 28 April 2026 | 10:20

DPR Desak Evaluasi Nasional Perlintasan Sebidang Usai Tabrakan Kereta di Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 10:13

Bus Shalawat Gratis 24 Jam Disiapkan untuk Jemaah Haji di Makkah

Selasa, 28 April 2026 | 10:09

Update Korban Jiwa Tabrakan KA di Bekasi Bertambah Jadi 14 Orang

Selasa, 28 April 2026 | 10:00

Prabowo Minta Segera Investigasi Kasus Tabrakan Kereta Bekasi

Selasa, 28 April 2026 | 09:56

Lokomotif Argo Bromo Berhasil Dipindahkan, Tim SAR Fokus Evakuasi Korban

Selasa, 28 April 2026 | 09:53

Purbaya Pede IHSG Bisa Terbang 28.000, Pasar Langsung Terkoreksi

Selasa, 28 April 2026 | 09:51

Dinamika Global Tekan Indeks DXY ke Level 98,45 Jelang Keputusan Federal Reserve

Selasa, 28 April 2026 | 09:48

Kopdes Jadi Instrumen Capai Nol Kemiskinan Ekstrem

Selasa, 28 April 2026 | 09:39

Imbas Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Belasan Perjalanan KA Jarak Jauh dari Jakarta Resmi Dibatalkan

Selasa, 28 April 2026 | 09:27

Selengkapnya