Berita

ilustrasi/net

Forum Alumni ITB Dorong DPR dan Presiden Terpilih Bikin UU Rekonsiliasi Nasional

SELASA, 22 JULI 2014 | 00:15 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Masyarakat Indonesia, dari elit hingga akar rumput, cenderung terpecah dalam Pilpres 2014. Lebih-lebih negara juga tidak mampu menyelesaikan beban sejarah masa lalu sehingga setiap momentum regenerasi  bangsa dan pergantian kepemimpinan nasional diwarnai adanya eksploitasi sentimen yang berasal dari beban sejarah.

"Sentimen yang meluas, terus berlangsung dan teragregasi berakibat pada pembunuhan karakter calon pemimpin bangsa. Padahal siapapun calon pemimpin yang terpilih merupakan putera-puteri pilihan rakyat," demikian pernyataan sikap yang disampaikan Forum Alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) untuk Rekonsiliasi Nasional yang disampaikan redaksi beberapa saat lalu (Selasa, 22/7).

Di antara Inisiator Forum Alumni ITB untuk Rekonsiliasi Nasional ini adalah Erick Ridzky, Siswanda, Abdi Munif, M. Jehan Siregar, Budi Youyastri, Muslim Armas, Sutan Lubis, Fandi Wijaya, Aulia Prima Kurniawan, Ayub Laksono, Deddy Rahman, Meldi Rendra, Jati Kusumo, Rheza Sutedja, Abdul Hafid Rivai, Herry Sugiarto, Dedy Triawan, Dani Gunowo, dan Asrul Ramdhani


Menurut Forum Alumni ini, ketika sentimen tersebut masih melekat dan diyakini oleh rakyat, tentu berpotensi melemahkan legitimasi dan daya pimpin figur terpilih. Dan jika hal tersebut terus berlangsung maka berpotensi menimbulkan ketidakstabilan politik nasional, bencana bangsa yang berakar dari konflik sosial yang akan membuat bangsa ini sulit bergerak maju.

Padahal tujuan bernegara sebagaimana yang tercantum dalam mukadimah Undang Undang Dasar 1945 antara lain menyatakan bahwa negara melindungi segenap bangsa dan tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Karena Rekonsiliasi Nasional tak bisa ditawar lagi.

Rekonsiliasi Nasional ini bertujuan untuk mengembalikan semangat berbangsa dan bernegara kembali kepada tujuan mulia sebagaimana di mukadimah UUD 1945; menuntaskan masalah-masalah yang menjadi beban sejarah dari sejak republik ini berdiri; serta mencegah terulangnya kembali eksploitasi sentimen pembunuhan karakter calon pemimpin bangsa yang sejatinya bukan merupakan karakter luhur bangsa, pada setiap pergantian kepemimpinan nasional.

"DPR terpilih dan Presiden terpilih untuk menyusun Undang Undang Rekonsiliasi Nasional yang mendorong dan mengatur proses rujuk nasional, serta endorong terbentuknya Badan Rekonsiliasi Nasional yang bersifat permanen setingkat kementerian yang menangani dan menyelesaikan semua permasalahan Bangsa di masa lalu dan yang akan datang," demikian Forum Alumni ITB. [ysa]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya