Berita

ilustrasi/net

Pilpres Harus Jadi Pintu Masuk Rekonsiliasi dan Berdamai dengan Masa Lalu

JUMAT, 18 JULI 2014 | 14:10 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Pilpres 2014 harus menjadi pintu masuk mewujudkan Rekonsiliasi Nasional untuk membangun Indonesia yang satu dan tak terbagi di masa depan. Bangsa Indonesia juga harus dapat membuktikan sebagai bangsa besar dengan menunjukkan sikap saling memaafkan.

"Poin penting dalam rekonsiliasi adalah kemauan semua pihak untuk bersatu kembali  dan terutama berdamai dengan masa lalu," kata konsultan komunikasi politik, AM Putut Prabantoro di Jakarta, Jumat (18/7).
 
Menurut pandangan Putut, pilpres 2014 telah membagi bangsa Indonesia menjadi dua kutub besar yang saling berseberangan termasuk para purnawirawan, ormas, partai, golongan suku, media dan lain-lain. Bangsa Indonesia telah menyaksikan begitu hebatnya kampanya kedua kubu dalam pertarungan pilpres kali ini yang melukiskan seakan-akan pilpres 2014 persoalan hidup dan matinya bangsa karena peperangan antara si jahat dan si baik.
 

 
"Kita harus bersyukur bahwa Indonesia dapat melewati masa kritis dengan keberanian kita semua menatap luka-luka lama bangsa ini yang secara tidak sengaja dibuka oleh para pemimpinnya," ujar Putut Prabantoro, yang juga Ketua Pelaksana Gerakan Ekayastra Unmada,
 
Rekonsiliasi, demikian dijelaskan lebih lanjut, bukan hanya soal bersatunya kembali kedua kubu yang terbelah, tetapi terlebih adalah berdamainya bangsa Indonesia dengan masa lalunya. Putut menceritakan bahwa pada April 2008, Gerakan Ekayastra Unmada mengadakan rekonsiliasi antara Majapahit dan Pajajaran yang terpecah karena Perang Bubat dengan simbolisasi seminar yang berthemakan "Saudara, Sebangsa dan Setanah Air," di Universitas Pendidikan Indonesia.
 
Dikatakannya, bahwa sekalipun generasi sekarang tidak bermasalah dengan masa lalu, tetapi dampak dari ketidakadilan masa lalu dapat dirasakan oleh bangsa Indonesia generasi sekarang. Mengutip pernyataan Ajip Rosidi dalam rekonsiliasi budaya pada 4 April 2008, Putut menjelaskan, ada 50 lagu anak-anak Sunda yang menghujat Jawa. Itu artinya adalah, ada bekas yang tidak bisa dihapus dari perjalanan masa lalu.
 
"Sehingga yang terpenting dalam rekonsiliasi bukan soal benar atau salah, tetapi terlebih pada bersatunya kembali para pihak yang terpecah karena masa lalu. Untuk menyatukan para pihak yang terpecah, terbelah atau terpisah, para pihak harus mau berdamai dengan masa lalunya terlebih dahulu dengan menghilangkan dendam," tegas Putut.

Berdamai dengan masa lalu, menurut Putut, adalah menerima "status quo" sebagai akibat dari tidak ditemukan kebenaran yang sesungguhnya dari sebuah peristiwa luka bangsa karena pihak yang berkuasa atau pemenang mencari pembenaran atas tindakannya. Dan yang paling penting adalah niat baik dari seluruh bangsa untuk bersatu kembali dan berdamai dengan masa lalunya.  Luka bangsa Indonesia bukan hanya masalah pilpres, tetapi juga kasus Trisakti, penghilangan orang, Malari, Kedung Ombo, PKI atau pemberontakan China di Jawa menjelang Kerajaan Mataram terpecah, sebagai misal.

"Sebaiknya rekonsiliasi ditarik ke peristiwa sejarah yang terjauh atau terlama tetapi dampaknya bisa dirasakan hingga sekarang agar Bangsa Indonesia berdamai dengan masa lalunya yang membuat luka hingga sekarang. Selalu mengaitkan pilpres dengan trah Majapahit, trah mataram. trah Sriwijaya, isu agama atau ras sebagai misalnya, sebagai bentuk belum berdamainya bangsa Indonesia dengan masa lalunya, bahkan jauh sebelum kemerdekaan RI," demikian Putut. [ysa]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya