Berita

andi arief/net

Salah Alamat Bila Minta Andi Arief Harus Menerima Kekalahan Prabowo

KAMIS, 17 JULI 2014 | 16:43 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Keliru bila meminta Andi Arief, salah seorang di antara staf khusus SBY, untuk legowo menerima kekalahan pada Prabowo. Atau dengan kata lain, salah alamat.

Paling tidak, ini didasari pada dua hal. Andi Arief, tak seperti dikira kubu Jokowi-JK, yang memasukkannya ke dalam bagian dari pasukan senyap Prabowo. Andi Arief pun selalu mengatakan agar semua pihak menerima kemenangan atau kekalahan. Dari sisi ini saja, terlihat netralitas Andi Arief.

Kedua, dorongan Andi Arief yang meminta kubu Prabowo maupun Jokowi untuk siap menerima kekalahan adalah bersumber pada keyakinannya akan nilai-nilai demokrasi yang sudah diperjuangkannya sejak menjadi aktivis mahasiswa.


Sementara penekanan Andi Arief, yang lebih terlihat lebih meminta Jokowi-JK untuk menerima kekalahan, merupakan pesan obyketif. Sebab faktanya memang dari pihak Jokowi-JK belum ada keterangan yang menyatakan akan menerima kekalahan.

Alih-alih siap menerima kakalahan, kubu Jokowi-JK malah sudah terlalu dini menyatakan ada kecurangan bila kekalahan menimpa mereka.

Belakangan, pernyataan Andi Arief semakin menunjukkan netralitasnya. Andi Arief mengatakan total kecamatan di Indonesia ada 6.700 kecamatan. Dengan jumlah ini, gampang bagi tim sukses pasangan calon presiden untuk merekap suara menjadi laporan nasional.

Dengan merekap suara nasional berbasis kecamatan ini, lanjut Andi Arief, kedua kubu seharusnya sudah tau siapa yang menang atau kalah. Kedua pasangan pun tidak perlu menunggu rekap kabupaten dan provinsi. Lebih-lebih, kedua pasangan juga memiliki pasukan untuk merekap suara ini. Kubu Prabowo-Hatta misalnya memiliki saksi yang kuat, sementara kubu Jokowi-JK dibantu oleh situs kawalpemilu.org dari Singapura. [ysa]

Populer

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Saksi yang Diseret Khalid Basalamah Soal Uang Rp8,4 Miliar Mangkir dari Panggilan KPK

Minggu, 26 April 2026 | 11:05

Dua Dirjen Kementerian PKP Mundur Diduga Stres di Bawah Kepemimpinan Ara

Senin, 27 April 2026 | 03:59

Bos Rokok PT Gading Gadjah Mada Dipanggil KPK

Senin, 27 April 2026 | 14:16

Usai Dilantik, Jumhur Tegaskan Status Hukum Bersih dari Vonis 10 Bulan

Senin, 27 April 2026 | 21:08

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

UPDATE

OJK Catat Penyaluran Kredit Tembus Rp 8.659 Triliun, Sektor UMKM Mulai Tunjukkan Perbaikan

Rabu, 06 Mei 2026 | 08:14

Trump Mendadak Hentikan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:52

Harga Emas Rebound Saat Pasar Pantau Geopolitik dan Data Tenaga Kerja

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:23

Sektor Teknologi Eropa Bangkit dari Keterpurukan, STOXX 600 Menghijau

Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05

Kemenag Fasilitasi Kepindahan Santri Ponpes Ndolo Kusumo

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:45

Dana Wakaf Baitul Asyi untuk Jemaah Haji Aceh Diusulkan Naik

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:32

Rudy Mas’ud di Ujung Tanduk

Rabu, 06 Mei 2026 | 06:09

Rakyat Antipati dengan PSI

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:38

10 Orang Jadi Korban Penyiraman Air Keras Kurir Ekspedisi

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:19

Kapal Supertanker Iran Masuk RI Bukan Dagang Biasa

Rabu, 06 Mei 2026 | 05:08

Selengkapnya